Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal at-Taturk

Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal at-Taturk is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at September 27, 2018 upload by carlespen in Download.

Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal  at-Taturk
Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal at-Taturk

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

A. Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal  at-Taturk

Mustafa Kamal telah menjalankan pembaharuannya yang dilandasi dengan konsep Liberalis yang menyebabkan terjadi perubahan yang radikal dalam seluruh aspek kehidupan bangsa Turki, dan juga menimbulkan berbagai polemik di kalangan intelektual Turki. Di satu sisi para intelektual menganggap revolusi yang diprakarsai oleh Kamal  sebagai upaya merubah tatanan bangsa Turki ke arah yang modern dengan tidak bermaksud menghilangkan jejak Islam di bumi Tukri. Sementara kelompok lainnya berprinsip bahwa revolusi yang dilaksanakan Kamal sebagai upaya menyingkirkan Islam serta memutuskan hubungan peradaban dengan masa lalu. Adanya polemik tersebut memberikan pertimbangan kepada pemimpin Turki yang menggantikan Kamal untuk menerapkan berbagai kebijaksanaan dalam upaya menjaga integritas bangsa Turki.

Dalam beberapa decade tersebut, politik liberalis merupakan sebuah ideologi dominan di Turki. Hal ini dikarenakan keteguhan penguasa yang mendapat dukungan militer. Kenyataan liberalis dan westernisasi memang tidak terpisahkan dengan tentara hingga Kamal  memulai gerakannya juga dari kalangan tentara.

Ketika peranan tentara mulai berkurang dalam politik dan tatkala Turki berambisi menjadi Negara demokrasi sebagai persyaratan agar diterima di kalangan masyarakat Eropa, tekanan mulai berkurang kemudian Islam yang berakar panjang ratusan tahun silam, perlahan-lahan bersemi kembali.[1]

Setelah Kamal meninggal dunia pada tahun 1938, secara bertahap terjadilah berbagai perubahan di Turki. Pengganti Kamal , Ismet Inonu, mengambil langkah-langkah yang memberi peluang ke arah tumbuhnya demokrasi di negeri itu. Partai tunggal dihapuskan dan pemerintah memberi kesempatan berdirinya partai-partai baru. Termasuk mengizinkan adanya partai yang memperjuangkan kepentingan Islam. Partai Demokrat (Democratic Party) tercatat sebagai partai pertama yang memperjuangkan Islam sekalipun programnya menyatakan sepakat untuk memelihara dasar-dasar ajaran dari Kamal.

Kelonggaran yang diberikan pemerintah Inonu dimanfaatkan oleh partai demokrat untuk mengkritik dan mengecam kebijaksanaan yang terlalu jauh dalam menerapkan liberalis dan menyerukan kembali semangat memperhatikan agama. Pemerintahan Inonu mulai merosot popularitasnya yang disebabkan persoalan ekonomi Negara akhirnya mengizinkan kembali mata pelajaran agama dalam program pendidikan sekolah dasar.

Politik liberalis yang dilaksanakan Kamal di Negara Turki yang hampir seluruh penduduknya beragama Islam ternyata tidak sepenuh berhasil dan tidak sanggup mempertahankan keutuhannya. Pemimpin-pemimpin Turki pasca Kamal terpaksa harus mengambil berbagai kebijaksanaan politik yang bersifat korektif terhadap tindakan yang telah diambil sebagai implementasi dari faham liberalis, terutama seusai perang dunia II.

Sebagai contoh adalah liberalis dalam bidang pendidikan yakni dihapuskannya lembaga pendidikan agama dan penghilangan pelajaran agama di sekolah-sekolah. Tindakan yang dilakukan Kamal secara drastis ternyata menimbulkan masalah yang sangat serius. Dengan dihapuskannya pelajaran agama dan ditutupnya lembaga-lembaga pendidikan iman dan khatib bermunculanlah secara liar lembaga-lembaga pendidikan iman dan khatib dan juga madrasah-madrasah swasta. Selain itu, politik yang tidak memperhatikan kehidupan keagamaan rakyat berakibat timbulnya kevakuman agama dan budaya pada masyarakat sehingga memberikan peluang masuknya gerakan-gerakan esktrem untuk mengisi kekosongan itu. Dalam hubungan ini dapat dikemukakan bahwa meskipun dengan gigih berusaha menyisihkan Islam dalam kehidupan politik, tetapi Kamal  tidak memperkenalkan ideologi lain sebagai alternatif. Sementara itu dengan telah terhapuskannya Islam dan tidak adanya sebuah iedologi alternatif, maka muncullah kerawanan akan bahaya infiltrasi faham komunis.[2]

Adanya kekhawatiran akan bangkitnya faham ekstrem dan komunisme mengharuskan para intelektual dan pengusaha Turki mempertimbangkan kembali ideologi liberalis. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikannya nilai-nilai religius sebenarnya. Walaupun pada dasarnya rasa keagamaan yang mendalam tidak menjadi lemah dengan libralisme yang dicanangkan Kamal. Islam telah mempunyai akar sejarah yang panjang pada masyarakat Turki, sehingga tidak mengherankan pasca Kamal gerakan kembali kepada agama muncul di Turki.

Gagalnya kebijakan pemerintah dengan politik liberalisnya telah mengakibatkan penurunan tajam dalam jumlah pemimpin agama yang bermutu. Namun di sisi lain mempunyai akibat tak disengaja, yakni memajukan orang dusun yang beragama. Mereka yang bernaung dengan aman di daerah pedalaman tak pernah diusik dengan politik liberalis, sehingga dari sinilah dengan cepat mencuat kembali gerakan keagamaan.

Menurut Maryam Jameelah, seandainya ajaran Mustafa Kamal  benar-benar kreatif sebagaimana dinyatakan oleh para orientalis, maka berbagai pembaharuan ini tentunya menimbulkan semacam renaisans dan bangsa Turki seharusnya memberikan konstribusi besar kepada umat manusia. Namun sayang sekali impian-impian ini tidak pernah terlaksana secara nyata, Turki tetap saja beku secara kultural maupun intelektual sama sebagaimana Negara-negara Islam lainnya, bahkan 50 % penduduknya yang berusia dewasa buta huruf.[3]

Eksperimen Turki dengan politik liberalitasnya sangat menarik bentuk dicermati. Sebab andaikata Islam tidak gagal akan menimbulkan sejarah baru dalam duni Islam. Kegagalan liberalis Turki lebih bersifat struktural. Turki terlalu cepat melangkah ke Barat, sementara struktur sosial ekonomi masyarakatnya tidak berpijak pada dasar-dasar yang kuat. Namun demikian gerakan liberalis di Turki lebih merupakan gerakan pembaratan dari pengislaman, bahkan dalam prakteknya yang terjadi adalah proses de-Islamisasi sistem sosial, politik dan kultur masyarakat Turki. Bahwa kemudian revolusi itu tidak mencapai hasil yang nyata maka hal itu juga disebabkan oleh persoalan struktral. Redikalisasi gerakan liberal Turki akan kembali terjebak ke dalam struktur global yang diciptakan Barat.[4]

Semangat orang-orang Turki untuk menjadi suatu bangsa yang modern dan demokratis selalu disertai dengan kesadaran yang mendalam tentang watak dan ideal keturkian dan keislaman. Reformasi-reformasi Kamal  telah menciptakan kekosongan dalam berbagai aspek kehidupan bangsa Turki. Manakala sikap ekstrem ini terbukti tidak realistic maka pengendoran kebijakan selalu dilakukan.

Semenjak tahun 1946 terjadilah perubahan-perubahan yang cukup mendasar dalam sikap pemerintah Turki terhadap agama Islam. Pemerintah menerapkan kebijakan politik yang memberikan konsensi kepada semangat keislaman rakyat Turki. Pada tahun 1948 terjadi perubahan sikap pendidikan agama di sekolah-sekolaj. Pada tahun itu di Universitas Ankara dibuka Fakultas Teologi diikuti dengan pembukaan kembali delapan lembaga tinggi Islam, tempat mendidik ulama-ulama Sunni.[5] Di tahun 1949 pendidikan agama memasukkan kembali ke dalam kurikulum sekolah selama dua jam seminggu, setahun kemudian pendidikan itu dijadikan kurikulum wajib. Dalam tahun 1950 orang-orang Turki telah dibolehkan naik haji ke Mekah.[6]

Pada tanggal 14 Mei 1950 umat Islam mulai sadar akan nasibnya dan bersatu di bawah panji-panji partai demokrasi sehingga berhasil meraih kemenangan dengan mendapatkan 408 kursi di antara 478 kursi parlemen. Kemenangan ini disambut oleh rakyat Turki dengan mengumandangkan kembali azan dalam bahasa Arab secara serentak di mesjid-mesjid yang ada di Turki.[7]

Dalam perkembangan selanjutnya di masa pemerintahan partai demokrat, kebangkitan Islam kembali tampak dalam kehidupan politik dan sosial rakyat Turki. Itu tidak hanya berarti peningkatan secara lahiriyah dalam kegiatan keagamaan di antara rakyat Turki, tetapi kebijaksanaan partai demokrat cocok dengan perkembangan yang baru dalam studi dalam dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Turki.

Makin meningkatnya perhatian kepada agama menunjukkan bahwa Islam memberikan tanggapan terhadap kebutuhan rohani dan moral seluruh rakyat Turki. Liberalis warisan Kamal  telah kehilangan daya tariknya di antara kaum intelektual karena sebagian besar dari mereka telah kecewa dengan hasil-hasil yang dicapai dengan politik liberalis tersebut, khususnya dalam bidang pendidikan.

Menurut Lerner yang melakukan penelitian tentang masyarakat tradisional di Turki mengungkapkan bahwa reformasi dilakukan Kamal  mempunyai dampak positifnya. Sambil memuji upaya Kamal  yang dikatakannya berhasil memerangi “mentalias Tikur” yang menghalangi perkembangan republik Turki. Lerner melihat penghapusan aksara Arab dan pemakaian aksara Latin justeru merupakan “revolusi komunikasi” yang berhasil menyebarluaskan dan meningkatkan kemampuan membaca dan menulis yang merupakan syarat penting dari cara hidup modern.[8]

Kebanyakan intelektual Turki terutama kaum Kamal is umumnya setuju dengan pendapat Lerner tersebut. Menurut mereka jika Kamal  tidak melakukan revolusi pergantian alfabhet Arab ke alfabhet Latin, Turki akan tetap menjadi bangsa yang tradisional dan tidak bisa berkembang menjadi Negara yang modern.

Di sisi lain tidak dapat dipungkiri pergantian alfabhet Arab telah mengakibatkan keterputusan bangsa Turki dengan masa lampaunya yakni warisan budaya bangsa Turki Utsmani, karena warisan tersebut sebagain besar tertulis dalam huruf Arab. Ini tentunya menyebabkan bangsa Turki tidak mengalami stagnasi dalam mencari keterkaitan jiwa modernitas dengan latar belakang budaya nasional mereka. Hal ini mengakibatkan upaya Kamal  untuk membawa modernisasi di Turki dirasakan sebagai sesuatu yang sangat asing bagi warganya.

Dalam pandangan Edward Mortimer, adanya berbagai polemic politik di Turki pasca Kamal , merupakan salah satu bias yang ditimbulkan oleh politik radikal yang dijalankan oleh Kamal. Caranya yang tidak kenal kompromi dan sedikit kasar dalam merenggut Turki dari nilai-niali relegius jelas merupakan penyebab timbulnya sebagian masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan sistem perpolitikan yang ada di Turki.[9]

Adanya berbagai perubahan dalam perkembangan di Turki selain mencerminkan pengakuan bahwa Islam adalah sesuatu realitas dan kekuatan yang tidak dapat disisikan, di sisi lain juga merupakan upaya memanfaatkan Islam untuk memperkokoh Negara nasional Turki. Dengan demikian, liberalis yang dijalankan Kamal  tidak membawa dampak hilangnya Islam dan Kamal  sendiri memang tidak bermaksud demikian, ia hanya menginginkan agar hilangnya kekuasaan agama dibidang politik dan pemerintahan.

Pembaharuan bagi modernitas yang dilancarkan Kamal  hanya memberikan sedikit kebaikan untuk Turki dan hanya mengembangkan perasaan salah jalan di kalangan masyarakat Turki. Bagi rakyat Turki jelas hanya ada satu peradaban saja dan bukan perdaban Barat.[10] Di kalangan rakyat Turki pemahaman yang jelas tentang prinsip-prinsip pemBaratan belum jelas, di sana hanya ada satu pandangan bahwa sains atau teknologi Barat harus diambil sedangkan liberalis tidak mempunyai tempat bagi mereka, kecuali hanya di antara kaum westernis yang mewakili mayoritas kecil dari rakyat Turki. Bahkan banyak intelektual yang mengkritik kebijaksanaan imitasi peradaban Barat secara membabi buta dan bersikap apriori terhadap nilai-nilai Islam.

Dalam pandangan sebagian besar rakyat Turki identitas negaranya terletak pada kebudayaan yang asli bukan kebudayaan Barat. Kecenderungan dalam memberikan perhatian utama untuk memelihara kebudayaan Turki menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam sedang memperoleh perhatian, karena Islam merupakan landasan yang asasi bagi kebudayaan Turki.

Dengan menggambarkan sketsa sejarah liberalis tersebut dapat difahami bahwa liberalis yang terjadi di Turki sangat berbeda dengan yang pernah terjadi di dunia Barat. Liberalisme telah dipaksakan sebagai peraturan politik di bawah kekuasaan yang cenderung diktator. Adanya liberalis merupakan hasil dari serentetan pilihan-pilihan politik yang sulit dalam rangka menegakkan keutuhan Turki yang porakporanda akibat perang dunia I.

Walaupun kediktatoran pemerintahan Kamal  telah dijalankan setelah beban-beban perang selesai tetapi akhirnya adanya normalisasi dalam kehidupan rakyat, yang pada akhirnya demokrasi yang menakjubkan, terutama antara tahun 1945-1950. Sedikit banyak angan-angan konstitusional yang telah ikut terimpor dalam proses westernisasi tidak dapat dielakkan lagi. Adanya penjiplakan demokrasi versi Barat oleh pemerintahan Kamal akhirnya menghasilkan eksperimen-eksperimen demokrasi yang realisasinya baru terwujud pasca Mustafa Kamal. Begitu juga dengan ajaran liberalis yang dilakukan Kamal  telah menjelma beberapa ekses moral dan spiritual di kalangan rakyat Turki sehingga membuat mereka sadar akan urgensitas agama dalam segala aspek kehidupan manusia.

[1]Potret Dunia yang Berimpit, Majalah Gatra, Jakarta: 1995, hal. 50

[2]H. Munawir Sjadzali, Op. cit, hal. 226-227

[3]Maryam Jameelah, Islam dan Orientasime, Terj. Machnun Husein, Jakarta: Raja Grafinso Persada, 1994, hal. 126

[4]Fachry Ali, Islam Ideologi Dunia dan Dominasi Struktural, Bandung: Mizan, 1991, hal. 123

[5]Munawir Sjazali, Op. cit, hal. 227

[6]Harun Nasution, Op. cit, hal. 154

[7]Firdaus AN., Op. cit, hal. 42

[8]Daniel Lerner, Memudarnya Masyarakat Tradisional, (terj.), Yokyakarta: Gadjah Mada Press, 1983, hal. 92

[9]Edward Mortimer, Islam dan kekuasaan, Terj. Enna Hadi dan Rahmani Astuti, BAndung: MIzan, 1984, hal. 144

[10]Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Terj. Rahmani Astuti, Bandung: Mizan,  1991, hal. 81

Dampak Revolusi Islam Turki Pasca Mustafa Kamal at-Taturk in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.