Gagasan Mustafa Kamal

Gagasan Mustafa Kamal is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at October 09, 2018 upload by carlespen in Download.

Gagasan Mustafa Kamal
Gagasan Mustafa Kamal

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

BAB IV

Gagasan Mustafa Kamal

A. Gagasan Liberal

1.      Bidang Agama

Dalam pemikiran Islam isu terpenting yang masih hangat dibicarakan adalah persoalan hubungan agama dengan negara, yang pada akhirnya memunculkan berbagai sudut pandang mengenai masalah tersebut. Ketiga sudut pandang itu adalah: pertama, Aliran yang berpendirian bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap yang mengatur segala aspek kehidupan termasuk masalah kenegaraan. Kedua,Aliran yang berpendirian bahwa al-Qur’an tidak mengatur masalah politik atau kenegaraan. Dan ketigaAliran yang berpendirian bahwa dalam al-Qur’an tidak terdapat sistem kenegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika tentang kehidupan bernegara.[1]

Keterangan di atas menggambarkan bahwa di antara ketiga pendapat tersebut, maka terlihat dengan jelas bahwa kelompok ketiga merupakan kelompok yang mengambil tengah, dengan menengahi kedua pendapat yang berbeda sudut pandang tersebut.

Akan tetapi apabila dikaitkan dengan Mustafa Kamal, maka beliau dapat dimasukkan ke dalam golongan kedua. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan-pernyataan Kamal yang tidak mengaitkan antara agama dengan Negara, walaupun ia sendiri mengakui eksistensi agama dalam kehidupannya yang rasional.

Pada sambutan persidangan Majelis Agung Nasional yang dilaksanakan tahun 1923, Kamal memaparkan bahwa: “agama kita adalah salah satu dari agama yang paling logis dan wajar, dan karena itu menjadi agama yang paling terakhir. Untuk itu agama haruslah sesuai dengan kearifan ilmu pengetahuan dan logika. Agama kita sesuai sekali dengan semuanya itu”.[2]

Sebagai seorang nasionalis dan pengangum peradaban Barat, Mustafa Kamal tidak menentang agama Islam. Sebab agama Islam merupakan agama yang rasional dan diperlukan oleh umat manusia. namun rasionalitas Islam telah dirusak oleh ulah tangan manusia. Karena itu, ia melihat perlu diadakan pembaharuan dalam soal agama untuk disesuaikan dengan bumi Turki.[3] Menurut Kamal  doktrin-doktrin tradisonal perlu dihilangkan karena dapat menghambat kemajuan, hal ini dilakukan sebagai usaha meletakkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berakal, namun demikian dilakukan dengan menganalisa interpretasi-interpretasi ajaran yang tidak sesuai lagi dengan kemajuan manusia.

Dalam hal ini Niyazi Berkes berpedapat bahwa, Kamal sebenarnya sangat memahami arti dan peranan agama dalam kehidupan masyarakat terutama pada saat perjuangan kemerdekaan. Namun ia melihat agama sangat berperan sebagai perwujudan suatu ekspresi spontan dalam menggalang usaha-usaha nasional. Tetapi di sisi yang lain iapun melihat fanatisme agama sebagai bahaya yang mengakibatkan bencana nasional. Karena itu Kamal membenci praktek-praktek penyimpangan agama yang dilakukan golongan kaum ortodoks.[4]

Selanjutnya Berkes mengemukakan pendapatnya sesungguhnya Kamal  adalah seorang muslim, namun ia menghendaki adanya perubahan, tetapi cara-cara yang digunakan tergolong radikal dan modern, tidak seperti perkembangan Turki di masa Dinasti Utsmani. Baginya Islam adalah agama yang natural dan rasional. Dengan gagasan menghapus kesultanan dan kekhalifahan ia berharap akan terjadi pembaharuan bagi tumbuhnya tradisi dan alam fikiran Islam yang rasional dan modern yang sejalan dengan tuntutan sejarah.

Kamal  dalam melihat kesultanan dan menghendaki rasionalisasi dan liberalis di Turki dilakukan berdasarkan pengalaman sewaktu memimpin peperangan bersama umat Islam lainnya. Bagitu tinggi semangat perang suci, tidak mau mundur dan pantang menyerah disebabkan oleh fanatisme dan militansi bahwa mereka berperang semata-mata membela agama Tuhan. Pengalaman tersebut menimbulkan penilaian baru bagi Kamal , bahwa semangat Islam yang datang dari pemahaman yang sempit, tidak rasional nantinya akan sangat berbahaya terhadap integrasi Republik Turki karena mereka cenderung emosional dalam melihat persoalan bangsa.[5]

Dasar kehidupan rakyat Turki yang diliputi keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang disebabkan pengaruh ulama tradisonal maupun akibat kekalahan perang dunia I, Kamal  berusaha menjadikan Eropa sebagai kiblat reformasinya.

Konsep Kamal tersebut, di satu sisi merupakan sebuah dilema, namun di sisi lain inilah alternatif untuk menegakkan cita-cita Turki modern. Kamal menginginkan agar masalah agama menjadi urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan politik. Hal ini untuk membebaskan rakyat dari belenggu-belenggu ortodoks. Namun demikian, Kamal  tetap membentuk lembaga agama, agar pemerintah bisa memantau serta mengawasi pengamalan ajaran seluruh rakyat Turki hingga radikalisme dan fanatisme yang berlebihan bisa diredam.

2.      Bidang Pendidikan

Sebagai seorang pembaharu Mustafa Kamal memunculkan ide-ide pendidikan yang didasari pada faktor situasi sosial keagamaan dan situasi perkembangan pendidikan pada saat itu.

Kondisi sosial keagamaan yang menyangkut penafsiran dan pelaksanaan ajaran agama yang bersifat taqlid dan jumud. Bahkan lembaga pendidikan hanya berkiprah untuk mengkaji ajaran-ajaran tradisional semata, tanpa membuka diri terhadap masuknya ilmu pengetahuan modern. Dipihak lain, sistem pendidikan hanya bertumpu pada ajaran agama yang dikembangkan oleh syeikh-syeikh yang mengembangkan pemikiran ortodoks yang mengakibatkan visi dan misi intelektual rakyat Turki menjadi tumpul. Faktor inilah yang menyebabkan Kamal melihat pentingnya dilakukan pembaharuan pendidikan yang berorientasi kepada modernisasi yang diambil dari sistem Barat karena dengan sistem pendidikan Barat akan membangkitkan Turki dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena itulah, pada saat menyampaikan konferensi pendidikan di Ankara pada bulan Juli 1921, tentang  penyusunan program pendidikan nasional. Kamal  menyatakan bahwa:

Saya percaya bahwa prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran yang diikuti selama ini merupakan faktor penting dalam sejarah kemunduran kita. Karena itu berbicara tentang pendidikan nasional yang saya maksudkan suatu kebudayaan yang sesuai dengan watak nasional dan sejarah kita serta sama sekali bebas dari pengaruh-pengaruh timur dan Barat, ide-ide asing yang tidak sesuai dengan sifat-sifat alami kita dan faham-faham palsu dari masa lalu karena perkembangan watak nasional kita adalah mungkin hanya dengan kebudayaan semacam ini. Suatu pendidikan yang sama sekali asing akan membawa hasil-hasil yang merusak yang ditimbulkan oleh kebudayaan-kebudayaan asing itu yang selama ini kita ikuti hingga sekarang. Kebudayaan intelektual adalah cocok menurut dasarnya dan dasar itu adalah watak bangsa.[6]

Dari rumusan tersebut dapat dipahami bahwa konsep pendidikan yang diinginkan oleh Kamal adalah tercapainya keselarasan antara aspek kebudayaan dan watak bangsa dengan kemajuan yang sedang berkembang sehingga membuka intelektualitas demi kemajuan Turki. Persoalan yang dapat dicermati di sini ialah Kamal  tidak memfokuskan pemikirannya pada sistem pendidikan Barat semata namun demikian memperbaiki warisan dari masa lalu dunia timur, apa yang diinginkannya sesuai dengan jiwa dan watak bangsa Turki dan sesuai pula dengan realitas kehidupan masyarakat dalam abad modern.

Dalam uraian selanjutnya Kamal mengupas garis besar prinsip-prinsip kemajuan yang harus dijalankan bangsa Turki adalah:

Kemajuan bangsa-bangsa yang menekankan pada pemeliharaan beberapa adat kebiasaan dan kepercayaan yang tidak berdasarkan pada alasan apapun yang logis adalah sulit, ini bukan mustahil. Bangsa-bangsa yang tidak dapat melintasi rintangan-rintangan dan halangan yang menuju ke arah kemajuan tidaklah menjalankan hidup ini secara dapat diterima oleh akal dan praktik. Mereka pasti diperbudak dan dikuasai oleh bangsa-bangsa yang mempunyai filsafat hidup yang luas.[7]

Jalan pemikiran tersebut mendeskripsikan bahwa Kamal  menginginkan seluruh kebiasaan dan sistem lama yang tidak logis harus ditinggalkan, dengan berusaha menguasai arah peradaban yang menunjukkan sistem pendidikan modern. Ia sangat percaya pada  kekuatan saintisme, menurutnya kemajuan hanya dapat diperoleh melalui perantaraan sains dan filsafat hidup yang realistis. Karena itulah Kamal  memberikan konsep pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan Negara Turki. Apalagi Kamal punya keyakinan bila tradisi lama bisa ditinggalkan dan aspek modernis dikembangkan, maka rakyat Turki akan berpacu dengan Barat dalam menemukan ilmu pengetahuan baru yang mampu mengimbangi mereka dalam pendidikan.

Sebagaimana diketahui bahwa Turki yang diambil alih oleh Mustafa Kamal  adalah suatu Negara yang terbelakang serta tertimpa penyakit kebodohan (90 % rakyat buta huruf). Kamal  segera memulai serangkaian pembaharuan yang mencakup seluruh spectrum kehidupan Tukri. Di masa Turki Utsmani mempergunakan abjad Arab dalam lembaga pendidikan, Kamal  merasa bahwa huruf itu sulit dipelajari. Untuk mendorong hapusnya buta huruf dan membawa negaranya lebih dekat ke Eropa, ia berprinsip bahwa abjad Arab harus diganti dengan abjad Romawi.[8] Dengan gagasan liberalis ini, ia berharap akan terbentuknya generasi-generasi baru yang terputus dengan peradaban lama sehingga akan melahirkan gagasan-gagasan yang modern dan rasional. Di samping mengganti abjad Arab dengan abjad Latin, struktur-struktur pendidikan lama pun perlu diubah dan dipisahkan dengan agama, namun demikian pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga pendidikan agama.

Pengawasan sekuler terhadap pendidikan agama terutama  bukan ditujukan untuk menghilangkan Islam, tetapi untuk memutuskan hubungan agama dan pendidikan agama dari nilai-nilai lembaga tradisional.[9] Kamal berharap dengan gagasan pembaharuan akan memberikan nilai lebih pada Islam isi yang modern sehingga bisa melahirkan nuansa intelektual yang rasional di kalangan rakyat Turki.

Hal Ini menunjukkan gagasan Kamal  sangat kontradiksi dengan keinginan para ulama saat Turki yang mengharapkan lembaga pendidikan tradisonal tetap dipertahankan walaupun dibangun lembaga-lembaga pendidikan modern. Namun bagi Kamal, dengan dihapusnya lembaga pendidikan tradisional akan membawa arah kemajuan bangsa Turki dalam melihat perkembangan dunia, walaupun harus melupakan sejarah masa lalunya.

3.      Bidang Kebudayaan

Kamal  memasukkan peradaban Barat sebagai tema sentral yang dalam pandangannya pembaratan bahwa Turki harus menjadi bangsa Barat dalam segala tindak dan kelakuannya. Sehingga harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan tujuan tersebut. Ia menolak ide sintesis antara peradaban Barat dengan peradaban Timur sejak dari permulaannya. Turki harus menerima peradaban Barat secara keseluruhan. Kebijakan ini mengharuskan adanya perubahan budaya secara paksa yang diprakarsai melalui reformasi-reformasinya. Dalam hal ini orang mempunyai wawasan keilmuan harus dapat menciptakan cita-cita yang dipaparkan di depan bangsanya. Cita-cita itu adalah berusaha menjadikan peradaban Barat sebagai mata rantai untuk kemajuan dan memutuskan hubungan dengan masa lalu, bahkan berusaha untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari peradaban Barat.[10] Kamal  yakin bahwa hanya melalui pembaratan total, Turki bisa mengejar ketinggalannya dari Eropa. Posisi geografis Turki yang strategis untuk kepentingan politik dan militer Eropa diharapkan menjadi bargaining power untuk mendapatkan sumber-sumber ekonomi, keamanan, dan iptek dari Eropa.[11]

Deskripsi di atas menandakan bahwa Kamal secara jelas mengklaim Turki adalah bagian dari Eropa dan tidak mengakui eksistensi ketimuran walaupun di masa jayanya wilayah Turki sebagian besar di dunia Timur. Namun ia menganggap bangsa Timur sebagai bangsa yang kolot terutama dalam peradaban dan ilmu pengetahuan. Dengan cara inilah, Kamal  berusaha mempersandingkan Turki dengan Barat agar bisa membawa perubahan dalam pertumbuhan Turki sehingga situasi keamanan pun dapat terkendali, karena bagaimanapun negara Barat saat itu memegang kendali di wilayah tersebut dan berusaha memasukkan doktrin westernisasi bagi rakyat Turki.

Namun demikian, peradaban Barat bagi rakyat Turki merupakan satu-satunya peradaban alternatif di abad ke 20, karena mereka tidak yakin Islam dapat mengimbangi Barat atau secara lebih khusus mereka tidak percaya bahwa Islam akan mampu memberikan peradaban orang Turki untuk menuju ke tingkat kebudayaan kontemporer. Karena itulah, Turki harus meninggalkan warisan budaya lamanya dan menyerap peradaban baru yang lebih progresif. Akan tetapi gagasan Kamal  yang ingin menggunakan hukum Swiss di Turki merupakan sebuah upaya penekanan suprastruktural kepada infrastruktur dengan tujuan agar bisa berubah kebiasaan dan adat istiadat rakyat Turki.

Seorang pengikut Kamal  Ahmad Agauglu, menyatakan bahwa ketinggian suatu peradaban terletak dalam keseluruhan bukan dalam bahagaian-bahagian yang tertentu. Peradaban Barat akan mengalahkan peradaban-peradaban lain, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi karena keseluruhan unsur-unsurnya. Peperangan antara Timur dan Barat adalah peperangan antara dua peradaban yakni peradaban Islam dan peradaban Barat. Di dalam peradaban Islam, agama mencakup segala-segalanya mulai dari pakaian dan perkakas rumah tangga sampai ke lembaga pendidikan dan institusi. Turut campurnya Islam dalam segala aspek kehidupan membawa kepada kemunduran Islam sedangkan di Barat sebaliknya. Liberalismelah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu. Jika ingin terus mempunyai wujud rakyat Turki harus mengadakan liberalisasi terhadap pandangan keagamaan, hubungan sosial, dan hukum.[12]

Karena itulah dalam pidatonya Mustafa Kamal  mengatakan bahwa kelanjutan hidup di dunia peradaban modern menghendaki dari suatu masyarakat supaya mengadakan perubahan dalam diri sendiri. Di zaman yang di dalamnya ilmu pengetahuan membawa perubahan terus menerus, bangsa yang berpegang teguh pada pemikiran dan tradisi lama, tidak akan dapat mempertahankan wujudnya. Masyarakat Turki harus diubah menjadi masyarakat yang mempunyai peradaban Barat dan segala kegiatan reaksioner harus dihancurkan.[13]

Lebih lanjut Kamal  mengatakan kepada rakyat bahwa:

Kita harus memakai pakaian bangsa-bangsa beradab, kita buktikan kepada dunia bahwa kita adalah suatu bangsa yang besar dan maju, tidak boleh kita biarkan bangsa-bangsa yang lain yang tidak mengenal kita mengejek dan menertawakan kebobrokan kita di masa lampau. Kita ingin maju dengan mengikuti topan dan aliran masa. Bagaimana pun juga kita semua adalah bangsa Barat. Dengan peradaban kita yang tua yang menguasai dunia lama kita akan berjalan sepanjang jalan yang dilalui oleh peradaban modern, bukan hanya begitu saja, tetapi setelah memutuskan semua belenggu, kita berusaha untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi lagi. Kita akan mengeyahkan semua kepercayaan yang omong kosong. Dalam sains, ilmu pengetahuan dan seni yang pada setiap hal yang baik orang-orang pandai akan memimpin bangsa kita yang besar dan mulia ke arah tinjuan ini dengan kepandaian, pengetahuan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang teguh. Sudah pasti kita akan mencapai tujuan tersebut.[14]

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa Kamal  mencetuskan pandangan beragam yang mencerminkan bahwa ia menginginkan agar Turki segera bangkit dari kejumudan dan kekolotan dalam kebudayaan. Untuk itu Turki harus berbenah diri dalam menyongsong kemajuan melalui penerapan kebudayaan Barat.

Pada masa Turki Ustmani wanita Islam wajib mengenakan cadar jika keluar rumah. Kamal  melarang kebiasaan ini karena ia melihat hal itu merupakan kebudayaan kolot yang menghambat kemajuan. Kamal  yakin bahwa kebodohan hanya dapat diperangi dengan semangat persamaan antara pria dan wanita. Wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Di samping itu budaya masyarakat Turki yang mengenakan sorban penutup kepala dan tabush (semacam kopiah) dalam perspektif Kamal  perlu ditinjau kembali karena merupakan warisan dari pemerintahan Utsmani yang bobrok. Sebagai penggantinya pria Turki harus mengenakan topi ala Eropa.

Penggantian tarbush dengan topi di Turki bukanlah persoalan yang sederhana. Kamal  yakin tarbush merupakan bagian dari pemikiran kolot, yakni pemikiran duduk mencangkung dan membuang-buang waktu dari orang-orang yang meracuni kehidupan dengan menghisap candu, bersantai sepanjang waktu dengan gaya seorang sulthan. Kamal  memandang sebagai suatu keharusan baginya untuk menghancurkan kebekuan dalam mimpi berabad-abad di pantai Bosporus itu, dan ia melihat bahwa topi merupakan dinamik yang bisa menimbulkan pengaruh kuat dalam merubah dan meruntuhkan zawiyah-zawiyah yang menjadi tempat pertemuan mereka.[15]

Ilustrasi di atas bahwa reformasi kebudayaan yang Kamal  cetuskan merupakan sikap pesimisnya terhadap warisan masa lalu. Ia terpengaruh dengan kemajuan-kemajuan yang terjadi di Barat dan berupaya mengadopsikannya ke dalam masyarakat Turki. Peradaban Barat modern khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah terlihat sedemikian rupa mempengaruhi harkat dan kemajuan bangsa Barat. Bagi Kamal  hal tersebut harus dapat diwujudkan di bumi Turki. Dalam hal ini tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa secara tidak sadar Kamal  telah dipengaruhi oleh doktrin westernisasi walaupun di sisi lain ia menginginkan agar rakyatnya bangga sebagai warga Turki kendati harus memutuskan hubungan dengan kebudayaan masa lalu yang menurut Kamal  tidak sesuai lagi untuk membangun Negara Turki di masa selanjutnya.

[1]Syahrin Harahap, Al-Qur’an dan Liberalis; Kajian Kritis Terhadap Pemikiran Thaha Husein, Yokyakarta: Tiara Wacana Yokya, 1994, hal. 107

[2]Syafi’i Anwar, Kamal isme dan Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. I, Jakarta: 1989, hal. 86

[3]Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1992, hal. 153

[4]Niyazi Berkes, The Development of Secularism in Turkey, Monthreal McGill University Press, 1964, hal. 283

[5]Kamaruddin Hidayat, Mengamati Islam di Turki; Liberalis yang Terlambat, Jakarta: Pustaka Panjimas,1986, hal. 38

[6]H. A. Mukti Ali, Islam dan Sekularosme di Turki Modern, Jakarta: Djambatan, 1980, hal. 96

[7] Ibid., hal. 97

[8]Grolier International, Negara dan Bangsa, Jil. I, Jakarta: Widyadara, 1988, hal. 240-241

[9]Bryan S. Turner, Sosiologi Islam; Suatu Telaah Analitis Atas Tesa Sosiologi Weber, Terj. G. A. Ticoalu, Jakarta: Rajawali, 1992, hal. 312

[10]Muhammad Rasyid Feroza, Islam and Secularism in Post Kemalist Turkey, Islamabad: Islamic Turkey Research Institute, 1976, hal. 93

[11]Smith al-Hadar, Liberalisme Versus Islam di Turki, Jakarta: Pustaka Pajimas, 1998, hal. 52

[12]Niyazi Barkes, hal. 465

[13] Ibid., hal. 464

[14]Irfan Orga Margaretta, .., hal. 260

[15]Malik bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, hal. 129

Gagasan Mustafa Kamal in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.