Legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari – Cerita Rakyat Jawa Tengah

Legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari – Cerita Rakyat Jawa Tengah is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at October 21, 2018 upload by carlespen in Uncategorized.

Legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari – Cerita Rakyat Jawa Tengah
Legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari – Cerita Rakyat Jawa Tengah

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

Legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari - Cerita Rakyat Jawa Tengah

Pada jaman dahulu hidup seorang pemuda bernama Jaka Tarub pada sebuah desa pada wilayah Jawa Tengah. Ia tinggal beserta ibunya yg biasa dipanggil Mbok Milah. Ayahnya telah lama meninggal. Sehari hari Jaka Tarub & Mbok Milah bertani padi pada sawah.

Pada suatu malam, ditengah tidurnya yang lelap, Jaka Tarub bermimpi mendapat istri seorang bidadari nan anggun jelita dari kayangan. Begitu terbangun dan menyadari bahwa itu seluruh hanya mimpi, Jaka Tarub tersenyum sendiri.

Walaupun demikian, mimpi indah barusan masih terbayang dalam ingatannya. Jaka Tarub nir dapat tidur lagi. Ia keluar dan duduk di ambengan depan rumahnya sembari menatap bintang bintang pada langit. Tak terasa ayam jantan berkokok pertanda hari telah pagi.

Mbok Milah yang baru terjaga menyadari jikalau Jaka Tarub tidak terdapat di rumah. Begitu beliau melihat keluar ventilasi, dilihatnya anak semata wayangnya sedang melamun. ?Apa yang dilamunkan anakku itu?, pikir Mbok Milah.

Ia menebak mungkin Jaka Tarub sedang memikirkan buat segera berumah tangga. Usianya sudah lebih berdasarkan cukup. Teman teman sebayanyapun rata rata sudah menikah. Pikirannya itu membuat Mbok Milah berniat buat membantu Jaka Tarub menemukan istri.

Siang hari saat Mbok Milah sedang berada di sawah, tiba datang datang Pak Ranu pemilik sawah sebelah menghampirinya. ?Mbok Milah, mengapa anakmu sampai waktu ini belum menikah pula ??, tanya Pak Ranu membuka dialog. ?Entahlah?, istilah Mbok Milah sembari mengingat peristiwa tersebut pagi. ?Ada apa kau menanyakan itu Pak Ranu ??, tanya Mbok Milah. Ia sedikit heran kenapa Pak Ranu tertarik menggunakan kehidupan pribadi anaknya. ?Tidak apa apa Mbok Milah. Aku bermaksud menjodohkan anakmu dengan anakku Laraswati?, jawab Pak Ranu.

Mbok Milah terkejut mendengar niat Pak Ranu yg baru saja diutarakan. Ia sangat senang . Laraswati adalah seseorang gadis berparas manis yang kata katanya lemah lembut. Ia konfiden kalau Jaka Tarub mau mengakibatkan Laraswati sebagai istrinya.

Walaupun demikian Mbok Milah nir ingin mendahului anaknya buat merogoh keputusan. Biar bagaimanapun dia menyadari kalau Jaka Tarub telah dewasa & memiliki asa sendiri. ?Aku putusan bulat Pak Ranu. Tapi sebaiknya kita bertanya dulu pada anak kita masing masing?, istilah Mbok Milah bijak. Pak Ranu mengangguk angguk. Ia pikir apa yg dikatakan Mbok Milah benar adanya.

Hari berganti hari. Mbok Milah belum pula menemukan saat yang sempurna buat menyampaikan rencana perjodohan Jaka Tarub dan Laraswati. Ia takut Jaka Tarub tersinggung.

Mungkin pula Jaka Tarub sudah mempunyai calon istri yang belum dikenalkan padanya. Lama kelamaan Mbok Milah lupa akan niatnya semula.

Jaka Tarub adalah seseorang pemuda yang sangat senang berburu. Ia pula seseorang pemburu yg handal. Keahliannya itu diperolehnya berdasarkan mendiang ayahnya.

Jaka Tarub acapkali diajak berburu sang ayahnya sedari mini . Pagi itu Jaka Tarub telah siap berburu ke hutan. Busur, panah, pisau dan pedang sudah disiapkannya. Iapun pamit dalam ibunya.

Mbok Milah terlihat biasa biasa saja melepaskan kepergian Jaka Tarub. Ia berharap anaknya itu akan membawa pergi seekor menjangan besar yg sanggup mereka makan beberapa hari ke depan.

Tak lama lalu Mbok Milah masuk ke kamarnya. Ia bermaksud beristrihat sejenak sebelum berangkat ke sawah. Maklumlah, Mbok Milah sudah tua.

Tak memakan ketika usang pada tengah hutan, Jaka tarub berhasil memanah seekor menjangan. Hatinya bahagia. Segera saja beliau memanggul menjangan itu dan bermaksud segera pergi. Nasib sial rupanya tiba menghampiri. Tengah asyik berjalan, datang tiba muncul seekor macan tutul pada hadapan Jaka Tarub.

Macan itu merogoh ancang ancang buat menyerang. Jaka tarub panik. Ia segera melepaskan menjangan yang dipanggulnya & mencabut pedang dari pinggangnya. Sang macan berkiprah sangat cepat. Ia segera menggigit menjangan itu & membawanya pulang.

Jaka Tarub terduduk lemas. Bukan hanya kaget atas insiden yang baru dialaminya, iapun merasa heran. Baru kali ini nasibnya sesial ini.

Hewan buruan sudah ditangan malah dimangsa binatang buas. ?Pertanda apa ini ??, pikirnya. Jaka Tarub segera menepis pikiran tidak baik yg melintas pada benaknya. Setelah beristirahat sejenak, beliau segera berjalan lagi.

Nasib sial belum mau meninggalkan Jaka tarub. Setelah berjalan dan menunggu beberapa kali, tak seekor hewan buruanpun yang melintas. Matahari makin meninggi. Jaka Tarub merasa lapar.

Tak terdapat bekal yang dibawanya lantaran dia memang konfiden tak akan selama ini berada di hutan. Akhirnya Jaka Tarub tetapkan buat pergi walau dengan tangan hampa.

Ketika Jaka Tarub mulai memasuki desanya, ia heran melihat poly orang yg berjalan tergesa gesa menuju ke arah yg sama. Bahkan ada beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat terkejut.

Walaupun merasa heran Jaka Tarub enggan buat bertanya. Rasa lapar yang menderanya membuat Jaka Tarub ingin cepat cepat hingga di rumah.

Jaka Tarub tertegun memandang rumahnya yg sudah nampak dari kejauhan. Banyak orang berkerumun pada depan rumahnya. Bahkan orang orang yang tadi dilihatnya berjalan tergesa gesa ternyata menuju ke rumahnya juga. ?Ada apa ya ??, pikirnya. Jaka Tarub mulai tidak enak hati. Ia segera berlari menuju rumahnya.

?Ada apa ini ??, tanya Jaka Tarub setengah berteriak. Orang orang terkejut & menoleh kearahnya. Pak Ranu yang memang menunggu kedatangan Jaka Tarub sedari tersebut langsung menghampiri dan menepuk nepuk bahu Jaka Tarub. ?Sabar nak..?, ucapnya sambil membimbing Jaka Tarub memasuki rumah.

Mata Jaka Tarub langsung tertuju pada sesosok tubuh yg terbujur kaku diatas dipan di ruang tengah. Beberapa dtk kemudian Jaka Tarub menyadari bila ibunya telah meninggal. Jaka Tarub tidak bisa menunda air mata. Inilah bukti atas firasat jelek yg kurasakan sejak pagi, pikirnya.

Jaka Tarub tidak mampu berbuat apa apa. Ia hanya termenung memandang paras Mbok Milah. Cerita Pak Ranu bahwa istrinya yg menemukan Mbok Milah telah meninggal global dalam tidurnya tadi pagi tidak dihiraukannya.

Ia merenungi nasibnya yg sekarang sebatang kara. Jaka Tarub juga menyesal belum memenuhi impian ibunya melihat beliau berumah tangga & menimang cucu. Tapi seluruh tinggal kenangan. Kini ibunya sudah beristirahat menggunakan hening.

Sepeninggal ibunya, Jaka Tarub mengisi hari harinya menggunakan berburu. Hampir setiap hari ia berburu ke hutan. Hasil buruannya selalu dia bagi bagikan ke tetangga. Hanya menggunakan berburu, Jaka Tarub mampu melupakan kesedihannya.

Seperti pagi itu, Jaka Tarub telah bersiap siap buat berangkat berburu. Dengan kalem beliau berjalan menuju Hutan Wanawasa lantaran hari masih pagi.

Ketika sampai pada hutanpun Jaka tarub hanya menunggu fauna buruan lewat di depannya. Tak terasa hari sudah siang. Tak satupun hewan buruan yang didapat Jaka Tarub. Ia justru lebih poly melamun.

Karena rasa haus yang baru dirasakannya, Jaka Tarub melangkahkan kakinya ke arah danau. Danau yang terletak di tengah Hutan Wanawasa itu dikenal warga sebagai Danau Toyawening.

Ketika hampir sampai di danau itu, Jaka Tarub menghentikan langkah kakinya. Telinganya menangkap suara gadis gadis yg sedang bersenda gurau. ?Mungkin ini hanya hayalanku saja?, pikirnya heran.?Mana mungkin ada gadis gadis bermain main di tengah hutan belantara begini ??.

Dengan mengendap endap Jaka Tarub melangkahkan kakinya lagi menuju Danau Toyawening. Suara tawa gadis gadis itu makin kentara terdengar. Jaka Tarub mengintip menurut pulang pohon akbar kearah danau.

Alangkah terkejutnya Jaka Tarub menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Danau Toyawening. Jantungnya berdegub makin kencang.

Jaka Tarub memperhatikan satu satu gadis di danau itu. Semuanya berparas sangat cantik. Dari dialog mereka, Jaka Tarub tahu jikalau tujuh orang gadis itu adalah bidadari yang turun berdasarkan kayangan. ?Apakah ini arti mimpiku ketika itu ??, pikirnya senang .

Mata Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari pada atas sebuah batu besar di pinggir danau. Semua pakaian itu memiliki rona yg tidak selaras. ?Jika aku mengambil galat satu sandang bidadari ini, tentu yg punya tidak akan bisa pulang ke kayangan?, gumam Jaka Tarub. Wajahnya dihiasi senyum manakala membayangkan oleh bidadari yg bajunya dia curi akan bersedia sebagai istrinya.

Dengan hati hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Ia berjalan sangat perlahan. Apabila para bidadari itu menyadari kehadirannya, tentu semua rencananya akan buyar.

Jaka Tarub memilih baju berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru buru menyelinap ke pulang semak semak.

Tiba tiba seseorang menurut bidadari itu mengungkapkan ?, Ayo kita pulang sekarang. Hari sudah sore?. ?Ya benar. Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum mentari terbenam?, tambah yg lain. Para bidadari itu keluar menurut danau & mengenakan sandang mereka masing masing.

?Dimana bajuku ??, teriak salah seorang bidadari. ?Siapa yg mengambil bajuku ??, tanyanya menggunakan bunyi bergetar menahan tangis. ?Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan ??, tanya seorang bidadari kepadanya. ?Disini. Sama dengan baju kalian..?, Nawangwulan menjawab sambil menangis. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, mana mungkin ia sanggup pulang ke Kayangan. Apalagi selendang yang dipakainya untuk terbang ikut raib jua.

Karena Nawangwulan nir menemukan bajunya, beliau segera masuk pulang ke Danau Toyawening. Teman temannya yang lain membantu mencari baju Nawangwulan. Usaha mereka sia sia karena baju Nawangwulan telah dibawa pulang Jaka Tarub ke rumahnya.

Akhirnya seorang bidadari berkata ?Nawangwulan, maafkan kami. Kami harus segera pergi ke kayangan dan meninggalkanmu disini. Hari sudah menjelang sore?. Nawangwulan nir bisa berbuat apa apa.

Ia hanya sanggup mengangguk dan melambaikan tangan kepada keenam temannya yg terbang perlahan meninggalkan Danau Toyawening. ?Mungkin memang nasibku untuk sebagai penghuni bumi?, pikir Nawangwulan sembari mencucurkan air mata.

Nawangwulan kelihatan putus harapan. Tiba datang tanpa sadar beliau berucap ?Barangsiapa yang sanggup memberiku sandang akan kujadikan saudara bila beliau perempuan , tapi jika dia laki laki akan kujadikan suamiku?.

Jaka Tarub yg sedari tadi memperhatikan mobilitas gerik Nawangwulan dari kembali pohon tersenyum senang . ?Akhirnya mimpiku sebagai kenyataan?, pikirnya.

Jaka Tarub keluar berdasarkan persembunyiannya & berjalan kearah danau. Ia membawa baju mendiang ibunya yang diambilnya saat pergi tadi.

Jaka Tarub segera meletakkan baju yang dibawanya diatas sebuah batu besar seraya mengungkapkan ?Aku Jaka Tarub. Aku membawakan pakaian yg kau butuhkan. Ambillah & pakailah segera. Hari sudah hampir malam?.

Jaka Tarub meninggalkan Nawangwulan & menunggu pada balik pohon akbar tempatnya bersembunyi. Tak lama lalu Nawangwulan datang menemuinya. ?Aku Nawangwulan. Aku bidadari dari kayangan yang tidak mampu kembali kesana lantaran bajuku hilang?, istilah Nawangwulan memperkenalkan diri. Ia memenuhi kata istilah yg diucapkannya tadi. Tanpa ragu Nawangwulan bersedia menerima Jaka Tarub menjadi suaminya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak terasa rumah tangga Jaka Tarub & Nawangwulan sudah dikaruniai seorang putri yang diberi nama Nawangsih.

Tak seorangpun penduduk desa yang mewaspadai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu menjadi gadis yang asal menurut sebuah desa yg jauh menurut kampungnya.

Sejak menikah menggunakan Nawangwulan, Jaka Tarub merasa sangat senang . Tetapi terdapat satu hal yang mengganggu pikirannya selama ini. Jaka Tarub merasa heran mengapa padi di lumbung mereka kelihatannya nir berkurang walau dimasak setiap hari.

Lama usang tumpukan padi itu semakin meninggi. Panen yg diperoleh secara teratur menciptakan lumbung mereka hampir tak muat lagi menampungnya.

Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai. Ia menitipkan Nawangsih dalam Jaka Tarub. Nawangwulan pula mengingatkan suaminya itu buat tidak membuka tutup kukusan nasi yang sedang dimasaknya.

Ketika sedang asyik bermain menggunakan Nawangsih yg saat itu berumur satu tahun, Jaka Tarub teringat akan nasi yang sedang dimasak istrinya.

Lantaran terasa sudah usang, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang. Tanpa sadar Jaka Tarub membuka kukusan nasi itu. Ia lupa akan pesan Nawangwulan.

Betapa terkejutnya Jaka Tarub demi melihat isi kukusan itu. Nawangwulan hanya mengolah setangkai padi. Ia pribadi teringat akan persediaan padi mereka yg semakin usang semakin banyak. Terjawab telah pertanyaannya selama ini.

Nawangwulan yg rupanya sudah sampai di tempat tinggal menatap marah kepada suaminya pada pintu dapur. ?Kenapa kau melanggar pesanku Mas ??, tanyanya berang. Jaka Tarub nir sanggup menjawab. Ia hanya terdiam. ?Hilanglah telah kesaktianku buat merubah setangkai padi sebagai sebakul nasi?, lanjut Nawangwulan. ?Mulai sekarang aku wajib menumbuk padi buat kita masak. Lantaran itu Mas harus menyediakan lesung untukku?.

Jaka Tarub menyesali perbuatannya. Tapi apa mau dikata, seluruh sudah terlambat. Mulai hari itu Nawangwulan selalu menumbuk padi buat dimasak. Mulailah terlihat persediaan padi mereka semakin usang semakin menipis. Bahkan kini padi itu sudah tinggal tersisa di dasar lumbung.

Seperti biasa pagi itu Nawangwulan ke lumbung yang terletak di halaman belakang buat mengambil padi. Ketika sedang menarik batang btg padi yg tersisa sedikit itu, Nawangwulan merasa tangannya memegang sesuatu yg lembut.

Lantaran penasaran, Nawangwulan terus menarik benda itu. Wajah Nawangwulan seketika pucat pasi menatap benda yang baru saja berhasil diraihnya. Baju bidadari dan selendangnya yang berwarna merah.. !!

Bermacam perasaan berkecamuk di hatinya. Nawangwulan merasa dirinya ditipu sang Jaka Tarub yg sekarang sudah menjadi suaminya.

Ia sama sekali tidak menyangka ternyata orang yg tega mencuri bajunya adalah Jaka Tarub. Segera saja hasrat yang nir pernah hilang dari hatinya menjadi begitu bertenaga. Nawangwulan ingin pulang ke asalnya, kayangan.

Sore hari ketika Jaka Tarub pulang ke rumahnya, dia tidak mendapati Nawangwulan & anak mereka Nawangsih. Jaka Tarub mencari sambil berteriak memanggil Nawangwulan, yang dicari tidak juga menjawab.

Saat itu matahari telah mulai tenggelam. Tiba tiba Jaka Tarub yang sedang berdiri pada halaman rumah melihat sesuatu melayang menuju ke arahnya. Dia mengamatinya sesaat.

Jaka Tarub terpana. Beberapa waktu kemudian ia mengenali ternyata yg dilihatnya adalah Nawangwulan yang menggendong Nawangsih. Nawangwulan terlihat sangat manis menggunakan baju bidadari lengkap menggunakan selendangnya.

Jaka Tarub merasa dirinya gemetar. Ia sama sekali nir menyangka bila Nawangwulan berhasil menemukan balik baju bidadarinya. Hal ini berarti rahasianya sudah terbongkar.

?Kenapa kau tega melakukan ini padaku Jaka Tarub ??, tanya Nawangwulan menggunakan nada murung . ?Maafkan saya Nawangwulan?, hanya itu istilah istilah yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Ia terlihat sangat menyesal. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya pada hadapannya.

?Sekarang kau harus menanggung akibat perbuatanmu Jaka Tarub?, istilah Nawangwulan. ?Aku akan kembali ke kayangan karena sesungguhnya saya ini seorang bidadari. Tempatku bukan disini?, lanjutnya. Jaka Tarub nir menjawab. Ia pasrah akan keputusan Nawangwulan.

?Kau wajib mengasuh Nawangsih sendiri. Mulai waktu ini kita bukan suami istri lagi?, istilah Nawangwulan tegas. Ia menyerahkan Nawangsih ke pelukan Jaka Tarub. Anak mini itu masih tertidur lelap. Ia nir sadar bahwa sebentar lagi ibunya akan meninggalkan dirinya.

?Betapapun salahmu padaku Jaka Tarub, Nawangsih tetaplah anakku. Jika beliau ingin bertemu denganku suatu waktu nanti, bakarlah batang padi, maka saya akan turun menemuinya?, tutur Nawangwulan sembari menatap wajah Nawangsih. ?Hanya satu syaratnya, kau nir boleh beserta Nawangsih waktu aku menemuinya. Biarkan ia seseorang diri di dekat btg padi yg dibakar?, lanjut Nawangwulan.

Jaka Tarub menahan kesedihannya menggunakan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya buat nir bertemu lagi menggunakan Nawangwulan, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya & Nawangsih.

Jaka Tarub hanya mampu menatap kepergian Nawangwulan sembari mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya nir termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih menggunakan baik seperti pesan Nawangwulan.

Legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari – Cerita Rakyat Jawa Tengah in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.

Tags: