Memori Musibah Tsunami Aceh

Memori Musibah Tsunami Aceh is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at October 10, 2018 upload by carlespen in Uncategorized.

Memori Musibah Tsunami Aceh
Memori Musibah Tsunami Aceh

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

Memori Musibah Tsunami Aceh

14 tahun yang lalu, Sabtu, 25 Des 2004 sekitar pukul 22.00 di rumah sewa Kelurahan Jati Rasa Kecamatan Jati Asih Bekasi Barat, kriiing…kriing… bunyi telpon, Maitanur Isteri tercinta mengangkatnya, lalu dari ujong telp dia mengucapkan salam. Ternyata yang telpon itu adalah Kak Safnidar Kakak kandungnya yang saat itu beralamat di Jalan Panglateh No.27 Kelurahan Merduati Banda Aceh.

Setelah beberapa saat mereka berbagi cerita, saya mendengar, isteri bertanya; Kak Saf telpon dengan telpon umum ya?. Kerena mau ngobrol lebih lama, Maitanur meminta kepada Kakak agar ditutup, sesaat kemudian kami menghubungi kembali, ceritapun berlanjut.

Setiap dua minggu sekali kami pasti menelpon keluarga baik yang di Banda Aceh maupun keluarga di Bireuen. Entah kenapa pada malam itu speaker telpon sengaja dinyalakan sehingga perbincangan antara saya,Maita dan Kakak dapat dilakukan secara bersama-sama, mulai dari perbincangan biasa seputar kondisi Kakak, keluarga di Banda Aceh dan Kondisi kami di Bekasi hingga mengalir ke beragam topik. Dari topik keamanan, kesehatan, ekonomi keluarga sampai ke persoalan pendidikan dan agama. Perbincangan kami tidak kurang dari 2 jam pada malam itu, topik-topik itu hanya sebagai media untuk melepaskan rindu antara seorang Kakak dengan Adik. Inilah percakapan terakhir antara Kakak dengan Adik.

Keesokan harinya Minggu, 26 Desember 2004 sekitar pukul 09.00 kami mendengar kabar bahwa di Aceh telah terjadi Gempa dengan goncangan yang sangat dahsyat, menurut BMKG mencapai 9,8 skala richter.

Berita itu kami peroleh melalui televisi, pada awalnya kami belum mendapat info tentang adanya peristiwa tsunami yang meluluh lantakan Aceh.

Mendengar informasi itu, kami segera menekan tombol hp masing-masing untuk menghubungi keluarga di Aceh, namun tidak tersambung. Komunikasi tidak dapat dilakukan mulai hari H hingga beberapa hari kedepan. Kami mulai gelisah, tidak ada keluarga di Aceh yang dapat dihubungi, keingintahuan kami semakin memuncak, namun belum ada media komunikasi yang dapat mengurangi dorongan keingintahuan kami terhadap peristiwa itu.

Sekitar pukul 11.00 kami kembali mendapat kabar bahwa air laut Aceh telah menenggelamkan sebahagian daratan Aceh, belum diketahui secara detil di wilayah mana saja yang tenggelam.

Mendengar informasi ini dari beberapa media diantaranya televisi, pesan singkat selular dan media lainnya. Kegelisahan kami semakin memuncak, belum mendapatkan kata-kata yang tepat mewakili perasaan kami saat itu.

Sebagaimana diketahui bahwa saat itu Aceh, secara de jure dalam status Darurat Sipil namun de facto masih darurat militer. Semua aktivis sipil menjadi Target Operasi TNI/Polri, Gerakan kemanusian, perjuagan demokrasi dan perdamaian dibungkam habis di Aceh. Kondisi ini mengharuskan kami untuk Hijrah ke Jakarta.

Selama hijrah di Jakarta saban hari kami melakukan komunikasi ke seluruh wilayah Aceh untuk menghimpun data korban konflik baik sipil maupun para pihak yang bertikai. Data ini menjadi materi kampanye untuk menghentikan perang di Aceh. Setiap minggu kami mengadakan pertemuan dengan berbagai Kedutaan negara asing, lembaga PBB dan perwakilan lembaga-lembaga International lainnya di Jakarta. Kami berharap kepada mereka agar meyakinkan para pihak RI-GAM agar segera menghentikan perang di Aceh.

Dua peristiwa besar ini, perang dan musibah tsunami mengakibatkan tragedi kemanusian yang maha dahsyat di Aceh. Kami ingin segera pulang untuk bertemu dengan keluarga, namun disisi lain kami masih di buru oleh negara melalui sayap militernya.

Dalam kekacauan pikiran, alhamdulillah pada hari ketiga kami telah dapat melakukan komunikasi dengan beberapa orang keluarga di Aceh. Melalui komunikasi tersebut diketahui bahwa beberapa orang diantara keluarga kami selamat dan sebahagian yang lain belum diketuhui keberadaannya termasuk Kak Safnidar, B’Salmin Mahdi, Mariam, Surayya, Nurul Huda, Hilian Tazkia (saat itu usianya masih 2 bulan) beserta Kakeknya dengan paggilan akrabnya Abah dan Nurjannah serta si As alias Upik.

Kami berusaha untuk mencari keberadaannya dengan menyebarkan foto melalui selebaran dan sebahagian diedarkan melalui email ke keluarga, teman dan lembaga-lembaga kemanusiaan baik yang sudah berada di Aceh maupun masih di luar Aceh. Namun usaha ini belum membuahkan hasil, artinya hingga saat ini kami belum mengetahui keberadaan keluarga kami yang hilang.

Tanggal 26 Desember adalah hari paling bersejarah bagi Aceh, Nasional dan bahkan dunia. Tanpa kecuali khusus bagi saya juga memiliki makna yang paling berharga di mana pada tanggal tersebut saya dilahirkan ke dunia…..

Penulis: Faisal Ridha

Memori Musibah Tsunami Aceh in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.

Tags: