Pendidikan Ukhuwah islamiyah

Pendidikan Ukhuwah islamiyah is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at November 20, 2018 upload by carlespen in Download.

Pendidikan Ukhuwah islamiyah
Pendidikan Ukhuwah islamiyah

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

1. Pendidikan Ukhuwah islamiyah

Dalam islam , pendidikan ukhuwah islamiyah merupakan suatu pendidikan yang sangat penting di terapkan dalam kehidupan karena itu merupakan bagian dari inti ajaran islam yang dibawa oleh seluruh para Nabi dan Rasul. Ini dapat kita perhatikan tentang pentingnya ukhuwah islamiyah seperti firman Allah didalam Al-qur’an surat Al – hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ). الحجرات : ١٠ (

Artinya: Hanyasanya kaum mu’minin itu adatah sebagai saudara, maka  damaikanlah antara kedua saudaramu. (al-Hujurat: 10)

Disamping dari pada itu juga kita dapat melihat pentingnya ukhuwah ini seperti di jelaskan oleh Rasulullah dalam Sabdanya:

عن أبي حمزة أنس بن مالك رضي الله عنه –خادم رسول اله صلى الله عليه وسلم قال ” لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه ( رواه : البخاري و مسلم )

Artinya: Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyAllahu anhu, pelayan Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam, dari Nabi ShalAllahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslem). [1]

Demikianlah di dalam Shahih Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang menunjukkan keraguan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan “milik saudaranya atau tetangganya” dengan kata yang menunjukkan keraguan. Para ulama berkata bahwa “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi :

“Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”. Abu ‘Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.

Abu Zinad berkata : “Secara tersurat Hadits ini menyatakan hak persaman, tetapi sebenarnya manusia itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak dizhalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku zhalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.

Diriwayatkan bahwa Fudhail bin ‘Iyadz, berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah : “Jika anda menginginkan orang lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak menasihati orang itu karena Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang itu di bawah anda?” (tentunya anda tidak akan menasihatinya).

Para ulama juga ada yang memberikan penafsiran bahwa: dia juga bisa di tafsirkan dengan persaudaraan secara umum yang meliputi orang kafir dan orang islam dan ada juga yang menafsirkan bahwa kecintaan dalam agama bukan kecintaan atas sesame manusia.[2]

Begitu juga kita lihat para Ashhabul Kahfi yang mereka saling mencintai karena Allah dan menolong antara sesame kaum yang beriman dan seperjuangan dengannya.  Mereka merupakan orang yang beriman kepada Allah dan Allah telah member petunjuk kepada mereka seperti didalam firmannya dalam surat Al-kahfi ayat 9- 10:

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَباً , إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً ) الكهف : ١٠- ٩ (

Artinya: Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan             (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan             Kami yang mengherankan?. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai    Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).(Qs. Al-Kahfi: 9 – 10)

Dari ayat di atas menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa, ketika kita beriman kepada Allah dan berdo’a kepada-Nya ketika dalam kesusahan maka Allah akan mengabulkan do’a kita dan akan dianugerahi sesuatu yang lebih baik bagi kita untuk dunia dan akhirat.

Disamping dari pada itu kita dapat melihat bagaimana ukhuwah diantara mereka dalam berjuang dan mempertahankan kebenaran secara bersama sama dan memutuskan untuk meninggalkan istana juga dengan kebersamaan. Itu mereka lakukan sebagai langkah terakhir karena mereka tidak sanggup lagi menda’wahkan pemimpin mereka yang dhalim dan menindas orang yang beriman. Nabi kita juga menganjurkan kepada kita unutuk uzlah ketika da’wah tidak diterima lagi dan manusia sudah sangat dhalim seperti dalam sabdanya:

وعن أبي سعيد الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رجل : أي الناس أفضل يا رَسُول اللَّهِ؟ قال : < مؤمن مجاهد بنفسه وماله في سبيل اللَّه ) قال : ثم من؟ قال : ( ثم رجل معتزل في شعب من الشعاب يعبد ربه > وفي رواية < يتقي اللَّه ويدع الناس من شره ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .(

Artinya: Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “ Ada seorang lelaki berkata: “Manakah orang yang paling utama itu, ya Rasulullah?” Beliau       s.a.w. bersabda: “Iaitu seorang mu’min yang berjihad dengan badannya dan hartanya fi-sabilillah.”Kemudian orang itu bertanya lagi: “Selanjutnyasiapakah?” Beliau s.a.w. bersabda: “Kemudian seorang yang memencilkan dirinya dalam suatu jalanan di gunung – maksudnya suatu tempat di antara dua gunung yang dapat digunakan sebagai kediaman – dari beberapa tempat di gunung, untuk menyembah kepada Tuhannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Kerana ia bertaqwa kepada Allah dan meninggalkan para manusia dari keburukannya diri sendiri” – jadi mengasingkan diri dari orang banyak, sehingga tidak akan sampailah keburukannya diri sendiri itu kepada orang-orang banyak tadi.(HR. Muttafaq ‘alaih). [3]

Itulah akhir dari perjuangan seorang mukmin apabila tidak sanggup lagi bertahan seperti yang dialami oleh para ashhabul kahfi. Yang Allah kisahkan didalam Al-qur’an yang menjadi pelajaran bagi kita semua.

[1] Imam Nawawi, Hadits Arba’in An-Nawawi (Terjemahan), Cet 1 ( Jakarta: Bina Insani Press,2005 ), hal: 26.

[2] Imam Yahya Bin Syafruddin An-Nawawi, Syarah Hadits Arba’in An-Nawawi (Terj : Hawin Murtadho), Cet, 1, ( Jakarta: Al-Aqwam, 2001), hal.  118.

[3] Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin (terj, Agus Hasan Basri dan M. Syu’ib), cet 2,( Jakarta: Duta Ilmu, 2004 ), hal 586

Pendidikan Ukhuwah islamiyah in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.