Pengertian Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci

Pengertian Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at October 01, 2018 upload by carlespen in Download.

Pengertian Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci
Pengertian Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

A. Pengertian Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tiada tandingnya (mu’jizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s., dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh banyak orang), serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah.

Definisi tersebut telah disepakati oleh para ulama dan ahli ushul. Allah menurunkan Al-Qur’an agar dijadikan undang-undang bagi umat manusia dan petunjuk atas kebenaran Rasul dan penjelasan atas kenabian dan kerasulannya, juga sebagai alasan (hujjah) yang kuat dikemudian hari bahwa Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan dari Zat Yang Maha Bijaksana lagi Terpuji. Nyatalah bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat yang abadi yang menundukkan semua generasi dan bangsa sepanjang masa.

Di sisi lain, Masykur Djalal mengemukakan :

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa saja yang mempercayai serta mengamalkannya. Bukan saja itu, tetapi Al-Qur’an juga merupakan kitab suci yang paling penghabisan diturunkan Allah, yang isinya mencakup segala pokok-pokok syari’at yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta pula untuk mengamalkan dan mengajarkannya sampai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.[1]

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril untuk dijadikan pedoman hidup manusia yang beriman. Karena itu, selain sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an juga apabila dibaca dengan baik dan benar mengandung nilai ibadah yang sangat mulia di sisi Allah SWT.

B. Kandungan Al-Qur’an

Al-Qur’an memuat berbagai pedoman hidup manusia yang dikategorikan ke dalam empat bagian besar, yaitu:

a. Aqidah

Agama Islam mengandung sistem keyakinan yang mendasari seluruh aktifitas pemeluknya yang disebut aqidah. Aqidah berisikan ajaran tentang apa saja yang mesti dipercayai, diyakini dan diimani oleh setiap orang. Karena Islam bersumber kepada kepercayaan dan keimanan kepada Tuhan, maka aqidah merupakan sistem kepercayaan yang mengikat manusia kepada Islam.[2]

Sistem  kepercayaan  Islam  atau  aqidah dibangun atas enam  dasar keimanan  yang lazim disebut rukun Iman. Rukun Iman meliputi keimanan kepada Allah, para Malaikat, kitab-kitab, para Rasul, hari akhir serta qadha  dan qadar-Nya. Sebagai rukun Iman tersebut adalah:

يأيـّها الذيـن أمنوا أمنّـو  بالله  ورسوله  والكتاب  الذي  أنزل  من قبل  ومن  يـكفر  بالله  وملائـكته  وكتبه  ورسوله  واليـوم  الأخر  فقد ضل ضللا  بـعيدًا (النساء: ١۳٦)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”  (Q. S.  4:136).

b. Ibadah

Ibadah merupakan salah satu bentuk amalan yang wajib dilaksanakan kepada Allah oleh seorang hamba. Amalan ini dibebankan karena seorang hamba telah yang mengakui bahwa diri merupakan makhluk Allah yang senantiasa melaksanakan pengabdiannya kepada sang Khalik. Karena hal itulah, maka Allah berhak menerima pengabdian hamba-Nya dalam bentuk amal ibadah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah :

و مـا خلقت  الـجـنّ  و الإ نـس   إلا  ليعبدون  (الذاريـات : ۵٦)

Artinya: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanyalah untuk menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyaat : 56)

Oleh karena itu, ibadah mesti dilaksanakan oleh seseorang hamba, karena ibadah seorang hamba baik berupa ibadah shalat sebagai sarana untuk mencegah dari kejahatan. Demikian juga diwajibkan melaksanakan ibadah untuk memberikan ketenangan kepada diri seorang hamba, karena dengan melaksanakan amal ibadah akan tercapai ketenangan dalam menjalani kehidupan ini.

Sebenarnya kewajiban melaksanakan ibadah ini sudah ada sejak masa sebelum Islam berkembang, dan hal ini pernah diterangkan secara tegas, karena pada masa itu manusia masih labil dalam menganut ajaran syari’atnya masing-masing, sehingga perintah untuk melaksanakan ibadah masih sangat lemah untuk dilaksanakan.[3]

c. Akhlak

Akhlak merupakan suatu proses untuk membimbing seorang untuk menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Oleh karena itu, manusia melakukan akhlak secara optimal agar mampu mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi, melaksanakan akhlak tersebut mempunyai syarat tersendiri dalam usaha mencapai tujuan hidup. Namun demikian, syarat tidak terfokus pada satu bidang saja, tetapi termasuk dalam semua proses mengkaji nilai akhlak.

قد كانت لكم أسوة حسنة  والذيـن  منه…(الممتحنة: ٤)

Artinya: “Sesungguhnya  pada mereka  itu (Ibrahim dan umatnya)  ada teladan  yang baik bagimu…”(Q.S. 60: 4).

Dalam hal ini Zainal Abidin Ahmad mengemukakan :

Dalam Islam ajaran akhlak merupakan sentral kehidupan manusia, karena itu akhlak memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadian seseorang. Kedua, akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa ada pikiran kotor. Ketiga, akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Keempat, akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan main-main atau karena bersandiwara. Kelima akhlak adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata.[4]

Sebagai hamba tentunya manusia sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai akhlaqul karimah yang dapat mengantarkan kepada tujuan hidup. Di sini tentu saja ada orang yang berusaha menciptakan suasana pendidikan yang menggairahkan dan menyenangkan bagi pelajar yang biasanya lebih banyak mendatangkan kegiatan pendidikan yang kurang harmonis.

d. Syari’ah

Pada dasarnya, syari’ah merumuskan tentang permasalahan yang menyangkut dengan aqidah, ibadah dan akhlak seorang hamba kepada Tuhannya,. demikian juga mencoba meramu konteks aqidah, ibadah dan akhlak ini dalam bentuk nilai-nilai aplikatif.

Konsep iman yang dibicarakan dalam perbuatan pada umumnya mengacu pada masalah berbakti kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Mahmud Syaltout, yang dimaksud dengan keimanan “Mengamalkan apa-apa yang telah diamalkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya; disebut “Taqwa” karena mereka teguh mengikuti sunnah Nabi SAW; disebut muslimin, karena mereka berpegang di atas al-haq (kebenaran), tidak berselisih dalam agama, mereka terkumpul pada para imam al-haq, dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama.

Pada fitrahnya memang setiap individu itu telah diberikan hidayah kebaikan (berupa ketauhidan dan keimanan) oleh Allah SWT. Akan tetapi iman dan tauhid itu dapat saja berubah ke arah kelunturan apabila tidak disiram dan dipupuk dengan bimbingan ke jalan menuju ke arah keimanan dan Islam.[5] Karena itu, masing-masing individu memiliki perbedaan kemampuan, kecerdasan, karakter, latar belakang sosial ekonomi dan perbedaan tingkat usia. Dalam pelaksanaan ibadah seorang anak manusia tidak pernah terjadi perbedaan, karena pendidikan ini selalu berpedoman secara langsung kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Apalagi para ulama fiqih berpedoman pada ayat dan hadits yang sama, sehingga tidak terjadi perbedaan pandangan dalam menentukan bagaimana cara melaksanakan amal ibadah kepada Allah.

[1]Masykur Djalal, Ulumul Qur’an, ( Jakarta: Bulan Bintang, 2000), hal. 111

[2]Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Depertemen Agama RI, Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, ( Jakarta:  Bulan Bintang, 2000), hal. 126.

[3] Hasbi Ash-Shiddiqy, al-Islam II, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 316.

[4]Zainal Abidin Ahmad, Pendidikan Akhlak, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 82.

[5]HAMKA, Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1956, hal. 176

Pengertian Al-Qur’an Sebagai Kitab Suci in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.