Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi

Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at November 18, 2018 upload by carlespen in Download.

Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi
Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

BAB I

PENDAHULUAN

Tasawuf merupakan bentuk kebajikan spiritual dalam Islam yang dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian tertentu berdasarkan syariat Islam. Jalan-jalan kerohanian dalam ilmu tasawuf dikembangkan dengan tujuan membawa seorang sufi menuju pencerahan batin atau persatuan rahasia dengan yang Satu. Di sini jelas bahwa landasan tasawuf ialah tauhid. Menurut keyakinan para sufi, apabila kalbu seseorang telah tercerahkan dan penglihatan batinnya terang terhadap yang hakiki, maka ia berpeluang mendapat persatuan rahasia (fana’) dengan yang Hakiki. Apabila demikian maka dia akan dapat merasakan pengalaman paling indah, yaitu hidupnya kembali jiwa dalam suasanabaqa` (kekal). Ia lantas tahu cara-cara membebaskan diri dari kesementaraan alam zawahir (fenomenal) yang melingkungi hidupnya, serta merasakan kedamaian yang langgeng sifatnya.

Ikhtiar untuk mencapai keadaan rohani (ahwal,kata jamak dari hal) semacam itu dimulai denganmujahadah, yaitu perjuangan batin melawan kecendrungan nafsu rendah yang dapat membawa kepada pengingkaran terhadap yang Haqq. Ujung perjalanan melaluimujahadah disebutmusyahadah, yaitu penyaksian secara batin bahwa Tuhan benar-benar satu, tiada kesyakan lagi terhadap-Nya. Jadi yang terbit dari keadaanmusyahadah ialah haqq al-yaqin.Jiwa yang menerima keadaan rohani semacam itu disebutfaqir, yaitu kesadaran tidak memiliki apa pun selain cinta kepada-Nya dan karenanya bebas dari kecendrungan selain Dia.

Salah satu jalan jalan kerohanian dalam ilmu Tasawuf ditempuh melalui cinta  Misalnya ketika seseorang memasuki lembah pencarian. Cintalah sebenarnya yang mendorong seseorang melakukan pencarian. Adapun kepuasan hati, perasaan atau keyakinan akan keesaan Tuhan, serta ketakjuban dan persatuan mistik merupakan tahapan keadaan berikutnya yang dicapai dalam jalan cinta. Dalam ilmu tasawuf cinta merupakan penghubung atau pengikat antara manusia dengan Tuhan-Nya. Jadi cinta ialah pengikat, penghubung, laluan, tangga naik menuju Tauhid. Di mana saja cinta menjelaskan bahwa tujuan hanya satu, yaitu kemutlakan dan kebenaran yang Haqq.

Sebagai bentuk spiritualitas Islam, Tasawuf pada mulanya muncul sebagai gerakanzuhud,yaitu sikap mengingkari gejala kemewahan dan materialisme yang berlebihan dengan memperbanyak ibadah. Gejala materialisme dan kecendrungan akan kemewahan melanda masyarakat kelas atas dan menengah muslim pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Sebagai gerakan zuhud tasawuf menekankan kepada sikap tawadduk dan tawakkal.

Pada akhir abad ke-8 M gerakan ini mengubah diri menjadi jalan Cinta, yang dipelopori oleh Rabi`ah al-Adawiyah, Dhun Nun al-Misri, Harits al-Muhasibi dan lain-lain. Istilah yang digunakan untuk cinta ialah mahabbah dan penggunaan istilah ini didasarkan pada ayat al-Qur`an surat Al-Maidah :54,

öNåk™:Ïtä† ÿ¼çmtRq™6Ïtä†ur

yuhibbuhum wa yuhibunahu” (Dia mencintai mereka dan/ sebagaimana mereka mencintai-Nya. Dalam pembahasan makalah ini, penulis lebih cendrung membahas tentang konsep cinta Rabi’ah Al-adawiyah, karena dialah yang pertama sekali mempelopori tentang konsep Mahbbah kepada Allah.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis mencoba membahas tentang “Pencapaian Kebenaran dalam wacana Cinta dan Gnosis dalam Tasawuf”

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi

Makna cinta (mahabbah) adalah kecendrungan jiwa padanya karena keberadaannya sebagai suatu kelezatan padanya. Sedangkan kebencian adalah sebaliknya, yaitu ketidakpuasan jiwa karena keberadaannya sebagai sesuatu yang tidak cocok baginya.[1]

Dalam pandangan Rumi, cinta sebagai dimensi pengalaman rohani, bukan dalam pengertian teoritis sepenuhnya “mengendalikan” keadaan batin dan “Psikologis” sufi. Ia tidak dapat diterangkan dengan kata-kata, tapi hanya dapat dipahami melalui pengalaman. Sebagaimana halnya seseorang yang ingin mengungkapkan cinta kepada kekasihnya, kata-kata tak dapat mewakili apa yang ada dihati melalui selembar kertas. Apalagi cinta seorang sufi pada kekasihnya yang tidak hanya melampaui dunia, tapi juga dunia dunia yang akan datang dan segala sesuatu yang terjangkau oleh imajinasi. Rumi sering menegaskan bahwa cinta tak terungkapkan. Meskipun demikian, dalam sebagian syair-syairnya, dia memberikan gambaran: orang dapat membicarakannya kapan saja dan tiada habis-habisnya. Tapi tetap pada suatu kesimpulan: cinta benar-benar tak terungkapkan lewat kata-kata. Ia adalah pengalaman yang berada di seberang pemikiran tapi sebuah pengalaman yang lebih nyata dari pada dunia dan segala yang ada di dalamnya.[2]

Membahas pengertian cinta yang diterima secara umum di kalangan ahli tasawuf. Ada dua katagori cinta yang dibahas para sufi, khususnya oleh kalangan wujudiyah, yaitu: (1) Cinta Ilahi itu sendiri, dan (2) Cinta mistikal atau kesufian. Cinta mistikal mengandung jalan menuju persatuan mistikal dan makrifat, dan ia merupakan bentuk pengalaman religius yang tinggi dengan beberapa keadaan rohani yang menyertainya.

Cinta ilahi yang dimaksud para sufi ialah Wujud-Nya ketika turun dari alam Dzat-Nya yang tak dikenal, yaitualam lahut, menuju alam ketuhanan (alam lahut) di mana Dia mulai memunculkan diri sebagai Khaliq atau Pencipta, dan selanjutnya dikenal sebagai Rabb al-`Alamin, Penguasa sekalian alam. Para sufi merujukkan konsep mereka tentang Tuhan sebagai wujud tunggal, yaitu Sifat-sifat-Nya dan Pengetahuan-Nya yang meliputi alam semesta.

Cinta Tuhan yang pertama disebut rahmat esensial oleh sebab dilimpahkan kepada semua makhluq-Nya dan seluruh umat manusia tanpa mengenal ras, bangsa, kaum dan agama. Sedang rahmat wajib, yaitu kasih atau rahim-Nya, hanya dilimpahkan pada orang-orang tertentu yang dipilih-Nya, yaitu mereka yang tawakkal, beriman dan berbuat kebajikan di muka bumi. Dengan demikian Cinta ilahi ialah wujud-Nya, dan Wujud-Nya ialah Sifat-sifat-Nya yang diringkas dalamal-rahman danal-rahim, juga Pengetahuan-Nya dan Nur-Nya, yang meliputi alam semesta. Cinta ilahi juga merupakan rahasia penciptaan (sirr al-khalq) atau sebab penciptaan (illah al-khalq). Ayat lain yang dijadikan rujukan ialah al-Qur`an, surat At-Thalaq ayat 12 yang berbunyi:

ª!$# “Ï%©!$# t,n=y{ yìö6y™ ;Nºuq»oÿxœ z`ÏBur ÇÚö‘F{$# £`ßgn=÷WÏB ãA¨”ttGtƒ âöDF{$# £`åks]÷t/ (#þqçHs>÷ètFÏ9 ¨br& ©!$# 4’n?tã È[email protected]ä. &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ¨br&ur ©!$# ô‰s% xÞ%tnr& È[email protected]ä3Î/ >äóÓx« $RHø>Ïã ÇÊËÈ

Artinya: Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

B. Cinta Sebagai Pencapaian Kebenaran dalam Tasawuf

Pengembaraan di jalan menuju Taman Kebenaran memerlukan bukan hanya pencapaian dan perwujudan pengetahuan pemersatu, melainkan juga keterbenaman di dalam cinta dan ketertarikan pada keindahan di tingkat tertingginya. Allah telah menjadikan mungkin bagi manusia untuk dapat meraih-Nya tidak hanya melalui pengetahuan tetapi juga melalui cinta dan keindahan. Taman itu adalah Taman Kebenaran, sekaligus juga Taman Cinta, yang Keindahannya melebihi dan melampaui semua yang dapat dibayangkan atau telah dialami sebagai sesuatu yang menyenangkan dan indah di bumi ini.

Jalan menuju Kebenaran menghasilkan penemuan Kebenaran, yang berarti pengetahuan mengenai-Nya. Lebih jauh lagi, Kebenaran itu sedemikian sehingga orang tidak dapat mengetahui-Nya tanpa mencintai-Nya. Dan cinta itu akhirnya mengantarkan ke dalam rengkuhan Allah, yang pada gilirannya mencintai orang-orang di antara hamba-hamba-Nya yang mencintai Dia. Akan tetapi, dalam pengertian metafisik, cinta Allah mendahulu cinta manusia.[3]

Mengenai cinta pada manusia ada dua macam, yaitu cinta mistikal/rohani dan cinta alami/kodrati. Cinta mistikal tertuju kepada Tuhan, cinta kodrati tertuju kepada sesama manusia dan lingkungan sekitar. Cinta jenis kedua ini dapat dijadikan tangga naik menuju cinta mistikal, dan sebaliknya cinta mistikal dapat mengubah bentuk-bentuk cinta yang kedua menjadi lebih tinggi. Pelaksanaan cinta kedua ini dirumuskan oleh al-Qur`an dengan istilahamar makruf nahi mungkar atau solidarits sosial yang bertujuan membentuk lingkungan masyarakat yang diridhai Tuhan, berkeadilan, beradab dan berperikemanusiaan.

Cinta mistikal merupakan kecendrungan yang tumbuh dalam jiwa manusia terhadap sesuatu yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari dirinya, baik keindahan, kebenaran maupun kebaikan yang dikandungnya. Para sufi menyebut perjalanan mendaki dari syariat kepada yang hakiki atau makrifat sebagai taraqqi. Istilah ini ada kaitannya dengan sebutantariqat. Perjalanan mendaki tersebut oleh Rumi disebut sebagai ‘perjalanan daridiri kediri’, yakni dari diri dalam kedudukan rendah menuju diri dalam kedudukan mulia/tinggi. Ayat al-Qur’an yang dirujuk dalam melukiskan perlunya jalan cinta dalam tasawuf antara lain ialah, Qur’an surat Ad-Dzariyaat ayat 56 yang berbunyi:

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

Artinya: dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Di dalam ayat ini tersirat pengertian bahwa dalam jalan cinta terdapat pengabdian kepada yang Dicintai. Selain itu para sufi juga menghubungkan pencapaian di jalan cinta dan peroleh pengetahuan yang mendalam tentang yang Hakiki. Ibnu Abbas misalnya menafsir perkataan “supaya beribadah kepada-Ku” dalam ayat di atas sebagai “supaya mencapai pengetahuan-Ku (melalui jalan cinta)”

Cinta mengantarkan manusia sehingga mampu hingga mampu mencapai fana dan baqa, ia melampaui akal, karena ketika seseorang telah mencapai fana, akal yang ada dalam dirinya juga mengalami fana, atau bahkan akalpun ditinggalkan, dan ketika telah samapai pada maqam “akulah tuhan” hanya di yang ada, tiada lagi akal. Oleh karena itu melaluinya manusia mengenal tuhan, sebab tiada lagi kemanusiaannya hanya keesaan yang mutlak. Penyejajaran cinta dan akal, mengambil peranan penting dalam literature sufi. Cinta menjadi penuntun bagi manusia menuju pintu gerbang pelataran Tuhan.[4]

Jenis cinta mistikal yang lain ialah berupa cinta yang terbit dari kerinduan manusia kampung halamannya yang sejati yang didiaminya padaHari Alastu dulu, yakni sebelum dia diturunkan ke dunia dan masih berupa roh yang bersujud di hadapan Tuhan. Pada hari itu manusia masih dekat dan bersatu dengan Tuhannya, dan berikrar tidak mengakui Rabb yang lain kecuali Kekasihnya yang Haqq, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur`an “Alastu bi rabbikum? Qawlu bala syahidna” (Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku bersaksi!” PerkataanAlastu diambil dari perkataan pertama dalam kalimah pengakuan tersebut. Ia disebut juga sebagai Hari Mitaq atau Hari Perjanjian, dan merupakan pengalaman azali manusia paling indah karena masih bersatu dengan-Nya, belum terbuang dan berpisah dari-Nya.

C. Konsep Cinta/Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyyah

Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah. Ia lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M, lalu hidup sebagai hamba sahaya keluarga Atik. Ia berasal dari keluarga miskin dan dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya yaitu Bashrah. Di kota ini namanya sangat harum sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang saleh semasanya. Menurut sebuah riwayat dia meninggal pada tahun 185 H/801 M. Orang-orang mengatakan bahwa dia dikuburkan di dekat kota Jurussalem.[5]

Rabi’ah hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Dalam sebuah riwayat tasawuf, disebutkan bahwa rumah Rabi’ah pernah dimasuki pencuri ketika dia sedangqiyâm al-lail. Karena tidak mendapati sesuatu barang bergarga pun di rumahnya, maling itu berusaha mengambil bejana tempat wudhu Rabi’ah. Namun anehnya dia tidak bisa keluar dari rumah itu sampai akhirnya meminta maaf kepada Rabi’ah. Kala itu Rabi’ah mengatakan bahwa dia boleh membawa apa saja di rumah itu selain bejana tersebut, karena menurutnya, itulah satu-satunya benda berharga miliknya yang digunakannya untuk bersuci.

Rabi’ah Adawiyah merupakan seorang zahid perempuan yang dapat menghias lembaran sejarah sufi dalam abad ke-2 H. Kemasyurannya ialah dalam kehidupan kerohanian, dimana tingkat zuhud yang dikembangkan Hasan Al-Basri yang bersifat Khauf dan raja’ ditingkatkannya ke tingkat yang bersifat cinta. Cinta yang suci murni lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan, karena yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa. Sifat zuhud berdasarkan cinta menyelinap dalam lubuk hati Rabi’ah Adawiyah, menyebabkan dia mengorbankan hidupnya untuk mencintai (Allah). Hidupnya tenggelam dalam zikir, tilawah dan witir. Kehidupannya merupakan gambaran dan ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas melukiskan hubungan cinta antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya.[6] Sebagaimana ungkapan Rabi’ah al-Adawiyah dalam larik sya’irnya:

“Kujadikan kau teman berbincang dalam kalbu

Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku

Dengan temanku tubuhku berbincang selalu

Dalam kalbu terpancang selalu kekasih cintaku”[7]

Melihat penjelasan di atas, penulis dapat memahami bahwa Rabi’ah al-Adawiyah merupakan seorang tokoh zuhud yang begitu cinta kepada Tuhan. Cintanya kepada Allah membuat ia tidak cinta kepada sesama makhluk.lainnya. hidupnya hanya di penuhi dengan zikir kepada Allah SWT., dengan tidak memperdulikan segala  urusan duniawi.

Konsep mahabbah Rabi’ah disifati  sebagaimaqâm seorang hamba di hadirat Tuhan,yang karenanya tidak memberikan peluang bagi kecintaan terhadap yang selain Allah SWT, termasuk terhadap Rasulullah saw sekalipun. Penghayatan terhadap tingkatan rohani yang cukup mendalam semacam ini dapat disebut bagian nyata dari pola pikirirfani (pola pikir yang mementingkan pengenalan intuitif terhadap hakikat Ketuhanan).

Pokok pendirian tasawuf Rabî’ah adalah tentang cinta sejati, di mana dia mengabdi atau beramal saleh semata-mata karena kecintaan tulus dan bulat terhadap Allah SWT. Bahkan, lantaran seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai ataupun membenci yang lain[8]

BAB III

KESIMPULAN

Makna cinta (mahabbah) adalah kecendrungan jiwa padanya karena keberadaannya sebagai suatu kelezatan padanya. Sedangkan kebencian adalah sebaliknya, yaitu ketidakpuasan jiwa karena keberadaannya sebagai sesuatu yang tidak cocok baginya. Dalam pandangan Rumi, cinta sebagai dimensi pengalaman rohani, bukan dalam pengertian teoritis sepenuhnya “mengendalikan” keadaan batin dan “Psikologis” sufi. Ia tidak dapat diterangkan dengan kata-kata, tapi hanya dapat dipahami melalui pengalaman.

Di kalangan ahli tasawuf ada dua katagori cinta yang dibahas para sufi, khususnya oleh kalangan wujudiyah, yaitu: (1) Cinta Ilahi itu sendiri, dan (2) Cinta mistikal atau kesufian. Cinta mistikal mengandung jalan menuju persatuan mistikal dan makrifat, dan ia merupakan bentuk pengalaman religius yang tinggi dengan beberapa keadaan rohani yang menyertainya. Cinta ilahi yang dimaksud para sufi ialah Wujud-Nya ketika turun dari alam Dzat-Nya yang tak dikenal, yaitualam lahut, menuju alam ketuhanan (alam lahut) di mana Dia mulai memunculkan diri sebagai Khaliq atau Pencipta, dan selanjutnya dikenal sebagai Rabb al-`Alamin, Penguasa sekalian alam. Para sufi merujukkan konsep mereka tentang Tuhan sebagai wujud tunggal, yaitu Sifat-sifat-Nya dan Pengetahuan-Nya yang meliputi alam semesta.

Dalam pandangan sufi cinta merupakan salah satu jalan penacapaian kebenaran, karena dengan cinta manusia akan mencapai kebenaran. Seseorang tidak akan mengatahui Tuhan tanpa mencintai-Nya.

Salah seorang tokoh pelopor tentang cinta dalam tasawuf adalah Rabi’ah adawiyah. Dia menyerahkan seluruh dirinya kepada Dzat yang sangat dikasihinya, sehingga dia tidak mau “berbagi kasih” kepada sesama makhluk. Hati Rabi’ah kosong dari segala-galanya kecuali Allah SWT semata, di mana dia tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk mencintai selain Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Mutiara Ihya’ Ihya ‘Ulumuddin, Ter. Irwan Kurniawan, Bandung Mizan Pustaka, 1997.

Asmaran As. Pengantar Studi Taswuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.

M. Sadat, Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi, Yogyakarta: Pustaka Qalam, 2001.

Muhammad Siregar, Pengantar Ilmu Tasawuf, Medan: Proyek PPTA, 1982.

Seyyed Hossein Nasr, Peran Cinta dan Keindahan Dalam Kehidupan Spiritual, di Akses 2 Januari 2010.

[1] Al-Ghazali, Mutiara Ihya’ Ihya ‘Ulumuddin, Ter. Irwan Kurniawan, (Bandung Mizan Pustaka, 1997), hal. 366.

[2] M. Sadat, Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi, (Yogyakarta: Pustaka Qalam, 2001), hal. 291.

[3] Seyyed Hossein Nasr, Peran Cinta dan Keindahan Dalam Kehidupan Spiritual, di Akses 2 Januari 2010

[4] M. Sadat, Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi, hal. 335.

[5] Asmaran As. Pengantar Studi Taswuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 274.

[6] Muhammad Siregar, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Medan: Proyek PPTA, 1982), hal. 61.

[7] Asmaran As. Pengantar Studi Taswuf…, hal. 277.

[8] Ibid., hal. 278.

Pengertian Cinta menurut Pandangan Sufi in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.