Perspektif Teologi Asyariyah Terhadap Musibah

Perspektif Teologi Asyariyah Terhadap Musibah is free HD wallpaper. This wallpaper was upload at October 17, 2018 upload by carlespen in Download.

Perspektif Teologi Asyariyah Terhadap Musibah
Perspektif Teologi Asyariyah Terhadap Musibah

Download by size:Handphone Tablet Desktop (Original Size)

BAB III

PERSPEKTIF TEOLOGI ASY�ARIYAH TERHADAP MUSIBAH

A. Sebab-Sebab Terjadi Musibah

Mengamati persoalan taqdir dalam Islam, tidak terlepas dari rukun Islam itu sendiri. Dalam urutan rukun iman salah satunya yang termuat mengenai qadla dan qadar (persoalan taqdir). Dari latar belakang inilah awal munculnya taqdir, yang sampai saat ini masih diperdebatkan.

Di antara persoalan taqdir yang dibahas dalam teologi Islam adalah musibah. Musibah ialah aturan yang kokoh dan hukum alam yang umum serta pola-pola yang diletakkan oleh Allah bagi segenap yang maujud ini, yang dikaitkan dalam hubungan sebab musabab.[1]Karena itu sebagai manusia harus yakin bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan mengandung hikmah, manusia kadang-kadang mampu mengetahui hikmah yang dikandung oleh satu jenis ciptaan dan kadang-kadang belum mampu mengetahuinya. Hal ini terjadi disebabkan oleh keterbatasan kemampuan manusia atau boleh jadi karena penelitian belum mampu menjangkau persoalan-persoalan yang mustahil dicerna oleh akal manusia.

Namun jika dilihat dari segi faktor yang menyebabkan lahir konsep musibah Asy�ari dikarenakan keraguan terhadap pendapat yang dikembangkan Mu�tazilah. Bagi Mu�tazilah setiap perbuatan manusia hanya ditentukan oleh manusia sendiri, sehingga tidak ada sangkut pautnya dengan kehendak Tuhan.[2]Bahkan konsep ini juga sejalan dengan pendapat Qadariyah yang menjadi menafikan perbuatan Tuhan dalam kehidupan manusia.

Akibat dari keraguan tersebut, maka al-Asy�ariyah keluar dari kelompok Mu�tazilah dan membangun aliran sendiri dengan mengambil jalan tengah dalam menganalisa persoalan tersebut. Pendapat al-Asy�ariyah didukung oleh pendapat Imam Al-Ghazali yang juga pengikut setia al-Asy�ariyah yang membangun khazanah baru dalam persoalan teologi Islam tersebut.

Bagi al-Ghazali musibah merupakan ketentuan Allah yang tidak dapat dilangkahi oleh siapa pun, karena musibah telah ditentukan semenjak manusia masih belum lahir. Karena itu, manusia harus menjalani setiap taqdir Tuhan. Akan tetapi manusia juga berkewajiban mengusahakan hukum alam tidak terjadinya pada dirinya.

Mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat-ayat Tuhan yang berupa alam raya (ayat-ayat kosmologis), setidaknya terdapat tiga macam taqdir Tuhan yang dikenal oleh manusia. Pertama, dan yang paling mudah diamati, adalah taqdir Tuhan yang berlaku pada fenomena alam fisika sebagaimana diisyaratkan oleh beberapa kutipan ayat Al-Qur’an. Yaitu hukum atau ketentuan Tuhan yang mengikat perilaku alam yang bersifat obyektif sehingga watak atau hukum kausalitas alam mudah difahami oleh manusia. Respon waktu dari mekanisme hukum alam ini relative pendek sehingga hasil dan efeknya mudah serta cepat diketahui oleh manusia. Oleh karena itu, adanya musibah Tuhan yang berlaku obyektif telah memungkinkan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang secara pesat. Bukankah teknologi itu tidak lebih hasil pemahaman, eksplorasi serta rekayasa manusia terhadap watak alam yang bisa dieksploitasi demi kesenangan hidup manusia.[3]

Kedua taqdir yang berkenaan dengan hukum sosial (Sunnatullah) yang berlakunya dengan melibatkan manusia hadir di dalamnya. Dalam banyak ayat Al-Qur’an taqdir (Sunnatullah) ini sering kali diisyaratkan dalam bentuk pertanyaan, seperti �apakah kamu sekalian tidak belajar dari perilaku kaum sebelum kamu yang senantiasa membuat kerusakan di muka bumi?� Nada pertanyaan semacam ini sering kali diulang dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa musibah Tuhan itu obyektif. Artinya, nasib jatuh bangunnya satu kaum itu memiliki rasionalitas tersendiri yang bisa difahami oleh generasi setelahnya. Karena adanya hukum sosial yang obyektif inilah maka kita lalu mengenal yang namanya ilmu sejarah, sosiologi, dan juga psikologi. Berbagai �logi� itu hanya mungkin jika kita bisa menerima asumsi adanya musibah atau hukum-hukum sosial yang berlaku obyektif. Time respons dari sunnatullah ini relatif lebih panjang ketimbang taqdir yang berlaku pada dunia fisika. Lebih dari itu hasilnya juga tidak sejelas pada hukum alam karena manusia yang mengamati ikut hadir dan terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya barang kali ilmu humaniora itu sering dikenal dengan istilah soft science sedang ilmu alam disebut hard science.[4]

Sementara itu, yang ketiga adalah taqdir dalam pengertian hukum kepastian Tuhan, yang berlaku tetapi time respons-nya lebih jauh lagi, yaitu efeknya baru diketahui setelah di alam akhirat nanti. Ketika di dunia dari hubungan sebab akibatnya belum berakhir, sehingga harus dibuktikan nanti di akhirat. Taqdir Tuhan yang ketiga ini biasanya lalu disikapi dengan iman karena selama manusia masih di dunia efeknya belum bisa dibuktikan, sementara informasinya berdasarkan Al-Qur’an. Bidang operasi dari taqdir macam ketiga ini kadangkala Al-Qur’an menggunakan istilah qadla atau dekrit Tuhan bahwa nasib orang di akhirat nanti akan ditentukan oleh apa yang diperbuat selama hidup di dunia. Barang siapa menanam kebaikan maka akan mengecap kenikmatan, dan barang siapa menanam kejahatan maka ia pun akan mendapatkan kesengsaraan.[5]

Berdasarkan ilustrasi di atas, maka dapat difahami bahwa makna taqdir sesungguhnya adalah semacam hukum sebab akibat yang berlaku secara pasti, yang operasionalnya di bawah control dan pengawasan Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Adil. Berlakunya hukum sebab akibat ini ada yang melibatkan manusia tetapi juga ada yang tidak melibatkan manusia.

Apabila taqdir Tuhan dikaitkan dengan musibah. Hal tersebut tidak berbeda, karena musibah juga termasuk salah satu hukum alam yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Musibah merupakan ketentuan sunnatullah yang telah digariskan oleh Tuhan dalam kehidupan hamba-Nya.

Berdasarkan keterangan di atas, maka terjadinya musibah dikarenakan sebab-sebab antara lain:

1.        Karena ulah tangan manusia membuat kehancuran di muka bumi, sehingga alam tidak lagi mampu mengatasi bahaya yang akan menimpa bahaya kepada manusia seperti longsor dan banjir disebabkan penggundulan gunung.

2.        Karena kehidupan manusia telah bergelimang maksiat, maka azab untuk mereka diturunkan dalam bentuk musibah yang bertujuan manusia dapat menyadari dan bertaubat dari dosa-dosa yang telah dilakukannya.

Namun demikian tidak sedikit kaum muslimin yang memandang segala kekuatan alam sebagai bukan apa-apa dihadapan kekuasaan Ilahi yang tidak terbatas. Ia merasakan kejayaan dan kebesaran dalam dirinya, sehingga membuat tangguh tak terkalahkan. Ia tahu, sebenarnya kekuatan bukanlah sekadar kemampuan material, walaupun kekuatan material itu sendiri juga diciptakan Allah dan kekuasaan atasnya terletak di tangan Allah. Lebih dari itu, apa pula kekuatan adikodrati dan pertolongan Ilahi, yang juga berada di tangan Allah. Bila ia menghendaki air laut bisa naik ke darat (tsunami)

B. Musibah Sebagai Peringatan Allah

Sebagai seorang teolog, al-Asy�ariyah telah mencoba mengembangkan pemikirannya untuk mengembangkan kemajuan ilmu Islam melalui konsep taqdir yang dikemukakannya. Namun demikian, konsep taqdir al-Asy�ariyah tidak terlepas dengan konsep Al-Qur’an. Konsep taqdirnya didasarkan pada ayat sebagai berikut:

??????? ?? ?????? ??? ???? (????????: ??)

Artinya: Dan Kami turunkan air dari langit dengan sesuatu ukuran (Q. S. al-Mukminun: 18)[6]

Dalam ayat lain juga dikemukakan sebagai berikut:

??? ?? ??? ??? ????? ?????? ??? ????? ??? ???? ????? (?????: ??)

Artinya: Dan tidak ada sesuatu apa pun melainkan di sisi Kamilah perbendaharaan dan kami tidak menurunkan melainkan dengan sesuatu kadar tertentu. (Q. S. al-Hijr: 21)

Berdasarkan dua ayat di atas, maka di fahami bahwa al-Asy�ariyah menggunakan sumber Al-Qur’an sebagai penguat dalil konsepnya. Karena dalil didasari dengan Al-Qur’an, maka siapa pun tidak dapat menolak konsep taqdir yang ditawarkan oleh al-Asy�ariyah.

Namun demikian, beliau juga mengajukan pemikirannya dengan menggunakan akal, karena akal merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari Islam. Apalagi agama Islam dibangun atas Al-Qur’an, Hadits, dan ijma�. Ijma. Merupakan salah satu bentuk dari pola fakir Islam yang wajib digunakan oleh segenap ulama Islam yang memahami Islam secara benar.

Penggunaan akal oleh al-Asy�ariyah dilakukan untuk menghambat konsep musibah yang ditawarkan oleh golongan lain dalam teologi Islam. Seperti Mu�tazilah, Syi�ah, Musrji�ah dan sebagainya. Penggunaan akal merupakan aspek yang sangat jelas dalam pemenuhan kebutuhan iman dan Islam.

Suatu upaya yang gemilang telah dilakukan oleh Asy�ariyah dalam mengekplorasikan pemikiran-pemikiran kalam di atas panggung sebenarnya. Menurut al-Asy�ariyah manusia adalah subjek pemikiran yang selalu berfikir terhadap obyek kajiannya semakin menaruh perhatian terhadap kemampuan akal, semua problem dapat difahami dan dipecahkan dalam taraf-taraf kemanusiaan.

Implikasi dari keyakinan berlebihan terhadap kemampuan akal telah dinyatakan perang terhadap orang-orang yang menyelewengkan aqidah, seperti kelompok Mu�tazilah, Jabariyah maupun Qadariyah. Yang mengakibatkan merosotnya keimanan seseorang kepada Tuhannya dikarenakan keyakinan-keyakinan yang tidak mendasar.

Dengan berkuasanya iman dan akal orang mengharapkan lahirnya dunia baru yang lebih sempurna, suatu dunia yang penuh dengan orang-orang yang memegang keimanan secara ikhlas berdasarkan akal sehat. Kepercayaan terhadap Tuhan secara sempurna sangat nampak di lapangan teologi, teruama dalam corak iman yang berbasis rasionalitas.

Al-Asy�ariyah membuka wacana baru dalam persoalan musibah dengan mengedepankan iman dan rasionalitas. Hal ini dibuktikan dengan pendapatnya didasarkan dengan wahyu yang diterjemahkan dengan konsep akal. Salah satu bentuk konsep wahyu yang diterjemahkan dengan akal adalah persoalan perbuatan Tuhan. Menurutnya perbuatan Tuhan berkuasa atas perbuatan manusia.[7]

Pernyataan al-Asy�ariyah ini didukung oleh pengikutnya yang menyatakan bahwa perbuatan manusia tidak terlepas dari perbuatan Tuhan. Artinya manusia tidak punya kuasa dalam melakukan perbuatannya tanpa didasari oleh ketentuan perbuatan Tuhan.[8]

Sebenarnya implikasi dari konsep teologi al-Asy�ariyah ini sudah cukup jelas terlihat, bahkan proses ini merambah ke berbagai elemen dalam membuka mata dunia dari keterkungkungan dogmatis. Kemajuan ilmu pengetahuan dewasa ini tidak terlepas dari pengaruh al-Asy�ariah yang mengedepankan wahyu setelah akal. Dengan adanya konsep taqdir ini pula, manusia dapat melepaskan diri dari musibah melalui konsep taqdir.

Manusia dalam perjalanan hidupnya tidak luput dari kesalahan yang dilakukannya.  Sehingga mengharuskan mereka untuk bertaubat kepada Allah SWT. Tobat sebenarnya merupakan kebutuhan pokok manusia, di antaranya kebutuhan jasmaniah lainnya, tetapi hal tersebut sangat jarang dilakukan oleh manusia.

Sebenarnya orang mempunyai masa hidup tertentu dan taqdir yang telah ditetapkan Allah Yang Maha Kuasa. Kematiannya datang bilamana taqdir kebijaksanaan Allah menuntutnya. Dengan kata lain, tidak ada mati yang mati tanpa izin Allah; tidak ada manusia yang mati di luar waktu yang ditentukan Allah dan yang diatur dalam kitab taqdirnya, baik kematiannya wajar atau tidak, di jalan kebenaran atau pun di jalan kebathilan.

Salah satu hal yang telah menjadi obyek penafsiran yang tidak benar adalah masalah taqdir dan nasib manusia. Sebagian orang berpikir, karena Allah Yang Maha Kuasa telah menaqdirkan nasib setiap orang, berarti manusia sama sekali tidak diberi kebebasan berkehendak untuk mengatur nasibnya, bahwa apa yang terjadi pada manusia adalah di luar wilayah kehendak dan kemauan bebasnya, dan bahwa ia sendiri tidak dapat memainkan peranan apa-apa di dalamnya.

Jadi, adalah suatu aturan umum bahwa selama perhatian kaum mukmin hanya kepada sebab-sebab alami, mereka tidak akan diliputi rahmat Allah. Rahmat Ilahi ini akan meliputi mereka bilamana mereka memutuskan diri dari semua hal, menunjukkan perhatian mereka semata-mata kepada Allah dan tidak untuk mengandalkan sebab-sebab material. Musibah akibat bencana dan kesusahan adalah paling efektif untuk mewujudkan kondisi ini, yakni memutuskan perhatian manusia kepada apa pun selain Allah.[9]

Sayangnya, campur aduk dari proyeksi ini telah menimbulkan hasil-hasil yang tidak dikehendaki, sehingga bukan saja tidak mengandung peran yang positif dan konstruktif pada sebagian orang, melainkan juga memunculkan efek-efek negatif. Di sini, penulis tidak memberikan pembahasan filosofis, tetapi hanya ingin menggambar konsep taqdir yang terkait dengan musibah yang diasumsikan oleh kalangan al-Asy’ariyah.

Ini adalah suatu rujukan yang harus dipahami secara alamiah. Namun, untuk melihat bagaimana manusia, sementara memeliki kehendak bebas dan melakukan pekerjaannya dengan kehendak bebas dan kehendak memilih, berada di bawah perencanaan Ilahi, dalam masalah ini, penulis akan memberikan contoh yang sederhana.

Bayangkan dua orang yang keluar dari rumahnya masing-masing di pagi hari, yang seorang bermaksud ke toko roti untuk membeli roti, sedangkan seorang lagi hendak naik bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Di samping jalan mereka bertemu, membicarakan suatu masalah, dan memutuskan untuk melakukan suatu tindakan. Di sini terlihat dengan jelas bahwa mereka dengan bebasnya menentukan kehendak mereka sendiri tanpa dipengaruhi oleh unsur lain.

Semua peristiwa ini, yang membentuk sistem dari aneka ragam fenomena, adalah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu, yang lahir dari kehendak bebas mereka sendiri berdasarkan motif-motif khusus dan untuk tujuan khusus.

Namun apabila dipikir secara cermat tentang peristiwa-peristiwa dalam kehidupan manusia, akan diketahui bahwa ada ribuan pengantar yang telah disediakan Allah Yang Maha Kuasa dengan rencana-Nya. Salah seorang tokoh besar agama � semoga Allah ridha atasnya � berkata, �Apabila seseorang berpikir tentang rahasia-rahasia kehidupan, dan apabila ia mempunyai mata (bathin) yang tajam dan hati yang jernih, ia akan melihat seakan-akan seluruh dunia telah diciptakan baginya dan bahwa segala sesuatu adalah pengantar baginya untuk melaksanakan urusan secara sempurna�. Dengan demikian, setiap makhluk harus mengetahui secara konstan berada di bawah perencaan dan pengawasan Allah, bahwa apa yang telah ditetapkan Allah baginya adalah baik, dan bahwa apa yang ditetapkan-Nya sebagai kewajiban dan tanggung jawabnya adalah baik. Oleh karena itu, manusia harus tahu bahwa semua taqdir Ilahi adalah demi kebaikan manusia, sekalipun berbentuk bencana dan kesusahan dan nampak merugikan pada lahirnya.

Oleh sebab itu, adanya peristiwa-peristiwa pahit dan menjengkelkan bukannya tidak bertujuan, melainkan di bawah rencana Allah, walaupun tindakan itu sendiri dipenuhi oleh kehendak bebas para individu pula, dan para pendosa tetap bertanggung jawab atas tindakan buruk mereka. Firman sebagai berikut:

?? ???? ?? ????? ?? ????? ??? ?? ?????? ??? ?? ???? ?? ??? ?? ?????? ?? ??? ??? ???? ????. ???? ????? ??? ?? ????? ??? ?????? ??? ???? ????? ????? ?? ????? ???? (??????: ??-??)

Artinya: Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (al-Hadid: 22-23)[10]

Berdasarkan keterangan ayat di atas, maka dapat dipahami bahwa tidak ada musibah yang menimpa seseorang melainkan telah tertulis dalam kitab sebelumnya, dan ini � sebagaimana segala sesuatu lainnya � adalah mudah bagi Allah untuk melakukannya. Kemudian Allah segera mengungkapkannya alasan untuk itu, supaya kamu beriman akan rencana Allah yang bijaksana dan tidak menjadi cemas apabila kamu kehilangan sesuatu; apabila kehilangan sesuatu barang, apabila sebuah rumah hancur, dan apabila orang yang kamu cintai gugur sebagai syahid. Ketahuilah bahwa itu taqdir Ilahi. Juga, supaya tidak sombong dan angkuh apabila keberuntungan menyertai kamu, dan supaya kamu selalu sadar bahwa kamu berkewajiban dan bertanggung jawab dalam semua peristiwa, yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan dan bahwa yang kamu harus pikirkan hanyalah memenuhi kewajiban kamu.

Berdasarkan gambaran tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa Allah memberikan musibah kepada hamba-Nya sebagai peringatan agar seorang hamba terbebas dari segala penyakit rohani seperti sombong, angkuh, serakah, lupa diri. Di sisi lain pemberikan musibah oleh Allah kepada hamba-Nya adalah sebagai ujian yang harus diikuti oleh segenap umat manusia, sebab tanpa ujian belum tentu iman seseorang dapat dikatagorikan sebagai iman yang kuat.

C. Hikmah di Balik Musibah

Persoalan aqidah merupakan salah satu pokok bahasan dalam teologi Islam yang diajarkan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Konsep tersebut termasuk salah satu mata rantai terpenting dalam mengembangkan wawasan keagamaan umat Islam, karena dengan mempelajari teologi Islam, umat Islam dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengabdian manusia kepada Khaliknya.

Oleh karena itu, dapat diketahui hikmah dibalik musibah sebagai berikut:

a.    Hubungan manusia dengan Allah SWT.

Hubungan vertikal antara manusia dengan Khaliknya mencakup dari segi aqidah yang meliputi: iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha qadar-Nya.[11]

b.   Hubungan manusia dengan manusia.

Konsep yang ditanamkan meliputi: akhlak dalam pergaulan hidup sesama manusia, kewajiban membiasakan berakhlak yang baik terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menjauhi akhlak yang buruk.[12]

c.    Hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Konsep yang diaplikasikan meliputi akhlak manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan dalam arti luas, maupun  makhluk hidup selain manusia, yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan.[13]

Mencermati musibah mempunyai fungsi dan peranannya yang amat luas, meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Karena hal tersebut menyangkut keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sudah sejak awal menjadi ciri dan unsur pokok umat manusia.

Iman dapat diartikan dengan �keyakinan yang mantap akan adanya keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya, syari�at serta keputusan-Nya, Maha Pencipta segalanya Dialah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya, tiada Tuhan selain Dia�.[14]Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa:

?? ??? ???? ??? ??? ???? ????? ?? ??????? ??? ???? ??? ??? ???? ?????? ????  ?? ?? ?? ??????? ???? ???? ??? ???? ????? ???: ?? ???? ?????? ?? ????? (???? ????)[15]

Artinya: Abu Amar atau Abu Amrah Aufan bin Abdullah Rasulullah saw berkata: wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang tidak akan pernah aku tanyakan kepada selain engkau�. beliau bersabda, �katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamah�. (H. R. Muslim)

Keyakinan yang teguh dan mantap terhadap Allah, kemudian dijabarkan kepada rukun-rukun iman yang lain, yaitu beriman kepada Malaikat, Kitab-Kitab(samawi), para Rasul alaihimussalam, iman kepada adanya hari kiamat serta qadha dan qadar Allah, yang kemudian membentuk aqidah Islamiah yang kuat dan mantap di dalam setiap muslim.

Akan tetapi konsep iman yang dibicarakan dalam bacaan pada umumnya mengacu pada masalah berbakti kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Mahmud Syaltut, yang dimaksud dengan keimanan �mengamalkan apa-apa yang telah diamalkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya; disebut �taqwa� karena mereka teguh mengikuti sunnah Nabi saw; disebut muslimin, karena mereka berpegang di atas al-haq (kebenaran), tidak berselisih dalam agama, mereka terkumpul pada para imam al-haq, dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama�.[16]

Karena itu mengikuti sunnah Rasulullah Saw, maka mereka disebut dengan ahlul hadits, ahlul autsar, ahlul �ittiba�, thaifah al-mansurah (kelompok yang dimenangkan), dan firqah an-najah (golongan yang selamat).[17]Oleh karena itu, mempelajari aqidah akhlak merupakan suatu kewajiban bagi kaum muslimin yang hendak beriman kepada secara teguh kepada Allah SWT.

Demikian juga dengan akhlak sebagian dari pelajaran pokok yang diajarkan dalam aqidah akhlak menyangkut masalah-masalah akhlak dan moralitas dengan mengangkat cerita-cerita kesabaran dan ketabahan Nabi Saw dalam menghadapi segala macam cobaan, maka dapatlah diketahui pembinaan akhlak dan moralitas merupakan hal yang sangat diutamakan di setiap masyarakat sejak dahulu sampai sekarang, terutama dalam upaya pembinaan manusia seutuhnya dan pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.

Akan tetapi penekanan terhadap pembentukan akhlak dan moralitas di dalam masyarakat tidak hanya bersifat teoritis, yakni memahami dan menguasai ajaran-ajaran akhlak dan moral yang terdapat di dalam kitab-kitab akhlak dan tasawuf, tetapi lebih diutamakan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengamalkan dan menjalankan apa saja yang telah diketahuinya itu sehingga menjadi kebisaaan yang mewarnai sikap dan prilakunya. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh sikap dan prilaku masyarakat intelektual. Sehingga menimbulkan sikap wara�.

Wara� adalah konsep hidup yang dipraktekkan oleh Rasulullah Saw dengan menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan mensyukuri segala nikmat yang diberikan-Nya. Dengan sikap wara� tersebut, maka manusia akan dapat mengambil manfaat yang besar dalam kehidupannya, sebab wara� akan menuntun manusia untuk hidup dalam keadaan selalu bersyukur.

Sementara itu Nabi Muhammad Saw itu sendiri diutus oleh Allah SWT bertujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia yang pada masa itu telah jauh merosot melebihi hewan. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw sebagai berikut:

?? ??? ????? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ????: ???? ???? ????? ????? ??????? (???? ???????)[18]

Artinya: Dari Ibnu Mas�ud berkata Rasulullah Saw: sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia (H. R. Abu Daud)

Berdasarkan hadits tersebut di atas, maka terlihat dengan jelas bahwa diutusnya Rasulullah Saw Muhammad Saw oleh Allah SWT ke alam dunia ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Salah satu prinsip yang amat penting dibalik musibah dan kesusahan yang ditanggung manusia  ialah perkembangan bakat dan aktualisasi potensinya yang tersembunyi, supaya dengan demikian ia mencapai kesempurnaan yang pantas. Hal ini serupa dengan pertumbuhan kekuatan fisik terjadi dalam latihan-latihan berat, dan orang-orang yang ingin mendapatkan kekuatan fisik yang lebih besar harus berlatih lebih banyak dan lebih keras, demikian pula dengan perumbuhan dan kesempurnaan rohani yang diperoleh dengan memasuki dan menanggung kesulitan dan kesusahan.

Kenyataan apa yang disebut dengan ujian dalam bahasa Al-Qur’an adalah juga pembinaan. Dalam hal ini, manusia dapat menamakan dunia sebagai tempat pembinaan, di samping tempat pengujian. Karena, bakat-bakat manusia dibina di dunia dan kemampuan potensialnya diwujudkan. Dalam riwayat dikatakan bahwa Allah menguji kaum mukmin dengan musibah dan kesulitan.

Tujuan Ilahi dalam mengajukan musibah dan menguji manusia itu memiliki beberapa hikmah penting di antaranya adalah:

1.     Agar orang yang menonjol tumbuh dalam masyarakat dan mendapatkan kedudukan tinggi, dan orang lain mengikutinya. Menjadi teladan ini mempunyai banyak tingkatan. Tingkatnya yang lebih tinggi adalah tingkat kemuliaan para Nabi dan para imam suci.[19]

2.     Agar manusia dapat melihat kenyataan bahwa kehidupan duniawi bukanlah kehidupan yang ideal dan bahwa ideal bathin manusia, yakni kesempurnaan dan kebahagiaan  yang kekal, tidak mungkin tercapai di dunia ini. Karena itu di sini peran musibah sangat besar dalam membimbing kehidupan manusia, karena sesungguhnya yang dicari dalam kehidupan manusia adalah hasrat bathin yang dibawa sejak lahir, sehingga dapat dicapai kebahagiaan yang kekal.[20]

3.     Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ketika manusia disibukkan dengan kenikmatan dan kesenangan, dan semua yang diinginkannya tersedia baginya, ia tidak akan melihat kelemahannya dan keadaannya yang membutuhkan. Sebagai akibatnya, benih pemberontakan dan pendurhakaan terhadap perintah Allah tumbuh dalam jiwanya, mengantarkannya kepada keakuan dan egoisme, dan secara berangsur-angsur ia pun melupakan Allah.[21]

Firman Allah menyebutkan bahwa:

?? ??????? ????? ?? ??? ?????? (?????: ?-?)

Artinya: �Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup�. (al-�Alaq: 6-7)[22]

Oleh karena itu, atas dasar kemahabijaksanaan-Nya, Allah membuat manusia menyadari keadaannya yang membutuhkan dalam berbagai situasi dan dengan berbagai cara, membuat mereka melihat fakta bahwa mereka sepenuhnya berpaling kepada Allah. Aturan umum ini diungkapkan Allah Yang Maha Kuasa dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Ia tidak mengutus para nabi-Nya kepada suatu kaum melainkan pertama-tama menimpakan kepada kaum itu musibah dan kesusahan sebagai dasar untuk memberikan perhatian kepada Allah SWT, untuk merendah, menyerah, dan memohon kepada Allah.

4.     Supaya manusia merendahkan diri di hadapan Allah, memohon kepada-Nya, merasa berada dalam kebutuhan, dan tidak menjadi sombong atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya; supaya ia tidak berpikir bahwa nikmat itu adalah miliknya sendiri, bahwa ia mendapatkan nikmat itu dengan usahanya sendiri.[23]

5.     Untuk menumbuhkan pengertian manusia akan makna nikmat itu sendiri, karena apabila semua nikmat diberikan kepada manusia dan kebutuhannya semua dipenuhi, maka menjadi lalai dan gagal memahami maknanya.[24]

Salah satu peraturan yang sangat berarti dalam perencanaan bagi manusia ialah bahwa manusia mampu memahami dan meraih pertolongan Ilahi yang ghaib bilamana ia menanggung kesulitan tertentu dan sabar akan tekanan. Dalam dunia ini, manusia tahu serangkaian sebab akibat.

D. Analisa Penulis

Musibah merupakan salah satu bentuk taqdir yang mesti diterima oleh seseorang dalam rangka menerima ketentuan hukum alam terhadap dirinya. Apalagi musibah salah satu hukum alam yang tidak ditolak oleh manusia.

Pada dasarnya, dalam perspektif teologi Islam telah dirumuskan tentang permasalahan yang menyangkut dengan taqdir Tuhan terhadap seorang hamba. Dan sebenarnya dalam rumusan ini tidak disinggung sedikit pun tentang persoalan musibah, namun demikian mencoba meramu konteks teologi ini dalam bentuk perspektif musibah.

Konsep iman yang dibicarakan dalam teologi al-Asy’ariyah pada umumnya mengacu pada masalah ketentuan Allah SWT terhadap hamba-Nya. Karena persoalan musibah merupakan bagian dari keimanan manusia terhadap Allah SWT, maka penulis mengutip pendapat Mahmud Syaltut, yang merumuskan bahwa keimanan adalah pengamalan apa-apa yang telah diamalkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya, sehingga dapat disebut �taqwa�, karena keteguhan mengikuti sunnah Nabi saw; disebut juga muslimin. Hal tersebut disebabkan berpegang di atas al-haq (kebenaran), sehingga tidak ada perselisihan dalam agama, mereka terkumpul pada para imam al-haq, dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama�.

Karena itu ditetapkan fitrahnya bahwa setiap manusia anak telah diberikan hidayah kebaikan (berupa ketauhidan dan keimanan) oleh Allah SWT. Akan tetapi iman dan tauhid itu dapat saja berubah ke arah kelunturan apabila tidak disiram dan dipupuk dengan bimbingan ke jalan menuju ke arah keimanan dan Islam. Di samping itu teologi Islam juga membahas tentang konsep taqdir yang berhubungan erat dengan persoalan musibah, yang merupakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam kehidupan manusia.

Dalam memberikan konsep taqdir kepada umat Islam tidak pernah terjadi perbedaan, karena arahan ini selalu berpedoman secara langsung kepada al-Qur�an dan as-Sunnah. Apalagi para teolog kebanyakan berpedoman pada ayat dan hadits yang sama, sehingga tidak terjadi perbedaan pandangan dalam menentukan bagaimana cara melaksanakan amal ibadah kepada Allah.

Kalau dilihat lebih jauh golongan al-Asy’ariyah menetapkan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ketentuanyang telah ditetapkan Allah, dan hal tersebut telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Namun demikian, manusia hanya diwajibkan untuk menghindari musibah yang telah ditetapkan tersebut. Karena itu, tidak perlu heran, kalau ada manusia yang tertimpa musibah, tetapi dia menghadapinya dengan penuh kesabaran. Sebaliknya ada yang tertimpa musibah, tetapi dihadapi dengan stress dan gundah gulana. Hal itu semua terjadi karena tingkat kemampuan seseorang menafsirkan musibah yang diterima dari Allah.

Sebenarnya, musibah yang ditimpa Allah kepada hamba-Nya memiliki sebab yang tidak diketahui manusia. Tetapi yang jelas Allah SWT memberikan musibah kepada hamba-Nya mempunyai  tujuan tersendiri. Salah satu tujuan diturunkan musibah kepada manusia adalah untuk menunjukkan kemahakuasaan Allah SWT kepada manusia, karena manusia pada saat itu telah dilandasi oleh keangkuhan dan kesombongan. Bahkan ada sebagian manusia yang seringkan mengagungkan kekuatan material, sehingga ia beranggapan apa yang telah dicapainya merupakan hasil usahanya sendiri. Padahal, apa yang didapatinya tidak terlepas dari campur tangan Allah SWT dalam kehidupannya.

Salah satu bentuk taqdir Allah SWT yang tidak sanggup ditolak oleh manusia adalah musibah Tsunami yang memberikan berbagai keajaiban yang kadangkala tidak terjangkau oleh akal normal manusia. Tetapi hal tersebut memang benar-benar terjadi. Contoh tersisa mesjid di antara puing-puing rumah penduduk.

BAB IV

PENUTUP

Bab ini adalah bab terakhir dalam pembahasan skripsi ini yang di dalamnya penulis akan menguraikan beberapa kesimpulan dari bab-bab sebelumnya. Dalam bab ini juga penulis mengajukan beberapa saran yang berkenaan dengan pembahasan dimaksud. Adapun kesimpulan dan saran-sarannya adalah:

A. Kesimpulan

1.     al-Asy’ariyah berpandangan bahwa musibah merupakan salah satu bagian dari taqdir. Sebagaimana taqdir, musibah juga termasuk salah satu ketentuan Allah SWT yang tidak dapat dielakkan oleh seorang hamba

2.     Musibah pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan keimanan, karena musibah merupakan salah satu bentuk taqdir yang mesti diimani oleh seorang anak manusia. Demikian pula dengan musibah harus diyakini bahwa hal itu merupakan juga ketentuan Allah SWT.

3.     Dalam setiap musibah tidak terlepas dari peran tangan Tuhan, karena tidak ada seorang manusia pun yang mampu menolak musibah. Hal ini berarti mutlak peran perbuatan Tuhan dalam memberikan musibah kepada hamba-Nya. Walaupun disebabkan ulahtangan mk, tetapi tidak terlepas dari taqdir Tuhan.

B. Saran-Saran

1.     Diharapkan kepada seluruh umat manusia agar selalu tabah dalam menghadapi musibah yang diberikan Allah SWT, karena musibah merupakan cobaan yang diberikan kepada hamba-Nya yang beriman dan taqwa kepada-Nya.

2.     Agar tidak terjadi musibah yang beruntun, diharapkan kepada seluruh umat manusia agar berhati-hati dalam menempuh hidup ini, karena dengan hati-hati setiap musibah yang akan datang untuk menjemput manusia akan terhalangi dengan sendirinya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-Qur’anul Karim

A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, Bandung: Pustaka al-Husna, t.t.

Abu Daud, Sunan Abu Daud, Mesir: Dar al-Kutub, 1956

Al-Iji, Al-Muwaqif, Mathba�atul �Ulum, tahun 1357 H

Barbara Word, Lima Pokok Pikiran Yang Mengubah Dunia, Terj. Mukhtar Lubis, Jakarta: Pustaka Jaya, 1983

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1990

Departemen Agama RI, Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran Aqidah Akhlak, Jakarta: Dirjend Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1997/1998

Hanna al-Fachuri dan Khalil al-Jarr, Tarkhul; Falasifah al-Arabiah, Beirut: Darul Ma�arif, 1957

Harun Nasution, Teologi Islam, Jakarta: UI Press, 1988

Hasan Shadily,Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru, 1983

Hassan Shadily, Ensiklopedi Islam, Jil. IV, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hove, 1983

Ibnu Taimiyah, al-Fatawa, Mesir: Dar al-Maktabah, t.t.

_____, Kemurnian Aqidah, Terj. Halimuddin, Jakarta: Bumi Aksara, 1996

Imam al-Asy’ari, Istihsan al-Kawadhi fi Ilmil Kalam, Beirut: ad-Durusy Syuruq, t.t.

_______, al-Luma�, Beirut: MAktabah al-Khanji, t.t.

_______, alHadharatul Islamiah,Mesir: Darul Bayan, t.t.,

Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jil. III, Singapore: t.t.

_____, Tahafut Falasifah, Mustafa al-Halabi, 1321 H

_____, Qawaidul Aqaid, Mesir: Dar al-Maktabah, t.t.

Imam Juwaini, Al-Irsyad, Maktabah al-Khanji, 1950

Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz. II, Beirut Libanon: Dar al-Fikri, t.t.

Kamaruddin Hidayat, Musibah dan Kebebasan, dalam Rekontruksi dan Renungan Religius Islam, Jakarta: Paramadina, 1996

Mahmud Syaltut, Aqidah wa Syari�ah, Mesir: Dar al-Kutub, t.t.

Muhammad Abduh, Risalatut Tauhid, Beirut: Wasyirkah al-Halabi al-Babi, 1953

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia , Jakarta: Balai Pustaka, 1976

Sayid Sabiq, Aqidah dan Syari�ah, Terj. Ali Yasin, Jakarta: Bulan Bintang, 1990

[1]Sayid Sabiq, Aqidah dan Syari�ah, Terj. Ali Yafie, Jakarta: Bulan Bintang, 1990, hal. 95

[2] Ibid., hal. 96

[3]Lihat Kamaruddin Hidayat, Musibah dan Kebebasan, dalam Rekontruksi dan Renungan Religius Islam, Jakarta: Paramadina, 1996, hal. 120

[4] Ibid., hal. 121

[5] Ibid.

[6]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1990, hal. 788

[7]Imam al-Asy’ari, al-Luma�, Beirut: MAktabah al-Khanji, t.t., 411

[8]Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jil. III, Singapore: t.t., hal. 116

[9]Ibnu Taimiyah, al-Fatawa, Mesir: Dar al-Maktabah, t.t., hal. 133

[10]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1990, hal. 905

[11]Imam al-Asy’ari, alHadharatul Islamiah,Mesir: Darul Bayan, t.t., hal. 11

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14]Muhammad Abduh, Risalatut Tauhid, (Beirut: Wasyirkah al-Halabi al-Babi, 1953), hal. 122

[15]Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz. II, (Beirut Libanon: Dar al-Fikri, t.t.), hal. 85

[16]Mahmud Syaltut, Aqidah wa Syari�ah, (Mesir: Dar al-Kutub, t.t.), hal. 65

[17] Ibid., hal. 66

[18]Abu Daud, Sunan Abu Daud, (Mesir: Dar al-Kutub, 1956), hal. 76

[19]Muhammad Taqi Misbah, Monotheisme; Tauhid Sebagai Sistem Nilai dan Aqidah Islam, Terj. M. Hashem, Jakarta: Lentera, 1996, hal. 91

[20] Ibid., hal. 94

[21] Ibid., hal. 95

[22]Departemen Agama RI, Op. cit, hal. 1050

[23]Muhammad Taqi Misbah, Op. cit., hal. 96

[24] Ibid., hal. 97

Perspektif Teologi Asyariyah Terhadap Musibah in your computer by clicking resolution image in Download by size:. Don't forget to rate and comment if you interest with this wallpaper.